Sri Purwanti, perempuan asal Cilacap, Jawa Tengah, berhasil mengubah pengalaman bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Taiwan menjadi peluang untuk membangun bisnis kuliner halal di Taipei.
Sri datang ke Taiwan lebih dari satu dekade lalu untuk bekerja. Pada masa awal tinggal di sana, ia menghadapi persoalan yang cukup dekat dengan kehidupan banyak pekerja Indonesia, yaitu sulitnya menemukan makanan halal yang sekaligus memiliki cita rasa seperti masakan Indonesia.
Alih-alih hanya menganggapnya sebagai kesulitan, Sri melihat kondisi tersebut sebagai peluang usaha. Ia menyadari bahwa kebutuhan terhadap makanan halal dengan cita rasa Nusantara kemungkinan juga dirasakan oleh pekerja Indonesia dan komunitas Muslim lainnya di Taiwan.
Sri kemudian mulai menyisihkan sebagian penghasilannya dan menabung secara bertahap. Dengan pengelolaan keuangan yang disiplin, tabungan dari hasil bekerja tersebut akhirnya dapat digunakan sebagai modal untuk merintis usaha kuliner dalam skala kecil.
Usahanya kemudian berkembang menjadi Kedai Sri Rahayu, sebuah restoran Indonesia yang berada di kawasan Zhongzheng District, Taipei, tidak jauh dari Taipei Grand Mosque.
Kedai Sri Rahayu menyediakan berbagai makanan khas Indonesia, seperti sate dengan bumbu kacang, ayam penyet sambal terasi, bakso urat, pempek Palembang, aneka gorengan, serta minuman seperti es cendol, es jeruk, dan es teh manis.
Bisnis tersebut juga tidak berhenti sebagai restoran. Kedai Sri Rahayu berkembang menjadi tempat yang menyediakan berbagai produk makanan, bumbu, rempah, dan bahan pangan khas Indonesia yang dibutuhkan masyarakat Indonesia di Taiwan.
Perjalanan Sri membangun bisnis tersebut berlangsung secara bertahap. Modal awalnya berasal dari penghasilan yang dikumpulkan selama bekerja di Taiwan. Ia memanfaatkan layanan perbankan untuk menabung sekaligus mengelola kebutuhan transaksi keuangan antara Taiwan dan Indonesia.
Kisah tersebut menunjukkan bagaimana pengelolaan penghasilan secara disiplin dapat membantu pekerja migran mengubah pendapatan dari luar negeri menjadi modal usaha. Masalah yang awalnya dialami sendiri akhirnya menjadi ide bisnis yang memberikan manfaat bagi komunitas yang lebih luas.
Seiring perkembangan usaha, Sri juga memiliki kesempatan untuk membuka lapangan pekerjaan. Ia tidak hanya ingin mengembangkan bisnisnya di Taiwan, tetapi juga berharap usahanya dapat memberikan manfaat ekonomi hingga ke Indonesia.
Perjalanan Sri menjadi contoh bahwa pengalaman bekerja di luar negeri dapat menjadi modal untuk membangun usaha. Dengan memahami kebutuhan pasar, mengelola keuangan secara terencana, dan berani mengambil peluang, penghasilan dari bekerja di perantauan dapat menjadi langkah awal menuju kemandirian ekonomi.