Istilah "Doom Spending" belakangan ini ramai dibahas dalam dunia finansial untuk menggambarkan fenomena perilaku konsumtif yang marak terjadi di kalangan generasi muda. Doom spending adalah kebiasaan membelanjakan uang secara tidak terkontrol untuk barang-barang konsumtif atau pengalaman mewah sebagai mekanisme koping mekanistis dalam menghadapi rasa cemas terhadap masa depan. Perilaku ini muncul sebagai respons emosional atas ketidakpastian ekonomi global, tingginya harga hunian, dan krisis iklim yang membuat anak muda merasa impian masa depan mereka semakin tidak terjangkau.
Secara psikologis, dorongan doom spending berakar dari perasaan hopeless atau keputusasaan finansial. Ketika generasi muda merasa bahwa menabung puluhan tahun pun tetap tidak akan cukup untuk membeli rumah atau mencapai kebebasan finansial, otak secara otomatis memilih kepuasan instan saat ini (instant gratification). Pembelian barang-barang seperti pakaian bermerek, gawai terbaru, atau liburan mahal menjadi cara cepat untuk mendapatkan dorongan dopamin demi meredakan stres dan kecemasan secara sementara.
Kemudahan akses transaksi digital dan paparan media sosial semakin memperparah kebiasaan buruk ini. Layanan pinjaman digital, sistem beli sekarang bayar nanti (paylater), dan transaksi sekali klik menghilangkan rasa berat saat mengeluarkan uang fisik. Di saat yang sama, algoritma media sosial terus menerus menyajikan konten gaya hidup mewah dan tren konsumerisme, yang secara tidak sadar memperkuat dorongan untuk ikut berbelanja demi mempertahankan gengsi sosial.
Dampak dari doom spending ini sangat berbahaya bagi kesehatan finansial jangka panjang. Uang yang seharusnya bisa dialokasikan untuk tabungan dana darurat, investasi awal, atau asuransi justru habis menguap untuk barang-barang yang nilainya terdepresiasi dengan cepat. Jika dibiarkan berlarut-larut, kebiasaan ini akan menciptakan lingkaran setan: stres karena tidak punya tabungan, lalu berbelanja lagi untuk menghilangkan stres tersebut.
Untuk keluar dari jebakan doom spending, langkah pertama adalah menyadari pemicu emosional di balik setiap keputusan berbelanja. Anak muda perlu merestrukturisasi tujuan finansial mereka menjadi target-target kecil yang lebih realistis dan terjangkau, sehingga rasionalitas menabung kembali terasa masuk akal. Membatasi penggunaan fitur paylater dan kurasi paparan media sosial juga sangat efektif untuk mengembalikan kendali atas keuangan pribadi.