Gagasan mengenai konser virtual di dalam ekosistem metaverse sempat digadang-gadang sebagai revolusi terbesar industri musik ketika pandemi melanda dunia. Konser-konser avatar digital dari artis papan atas di dalam platform game raksasa seperti Fortnite atau Roblox berhasil menyedot puluhan juta penonton secara bersamaan. Konser virtual ini terbukti mampu menembus batas geografis, memungkinkan penggemar dari pelosok dunia untuk menikmati pertunjukan musik interaktif tanpa perlu membeli tiket pesawat atau mengantre di stadion.
Dari perspektif monetisasi bisnis, konser virtual metaverse membuka keran pendapatan baru yang sangat menggiurkan bagi musisi dan agensi. Artis bisa menjual item digital eksklusif berupa skin avatar, pakaian virtual, hingga merchandise digital berformat NFT yang tidak memiliki biaya produksi fisik (zero marginal cost). Selain itu, biaya operasional pertunjukan metaverse jauh lebih murah karena tidak memerlukan panggung fisik, tim logistik raksasa, atau perizinan keamanan tempat yang rumit seperti pada konser tur dunia konvensional.
Namun, seiring berjalannya waktu dan kembali normalnya kehidupan pasca-pandemi, tren konser metaverse mulai mengalami penurunan antusiasme yang signifikan. Penyebab utamanya adalah keterbatasan teknologi perangkat keras (hardware) dan masalah aksesibilitas. Pengalaman metaverse yang immersif membutuhkan kacamata Virtual Reality (VR) yang harganya relatif mahal dan belum nyaman digunakan dalam durasi panjang. Tanpa perangkat VR, menonton konser metaverse di layar HP atau komputer biasa terasa tidak ada bedanya dengan menonton video game interaktif.
Faktor psikologis manusia juga menjadi kendala terbesar mengapa metaverse belum bisa menggantikan konser fisik secara penuh. Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan getaran energi nyata, dentuman suara bass yang menggetarkan dada, serta euphoria bernyanyi bersama ribuan orang di dalam satu tempat yang sama. Sensasi kebersamaan dan pengalaman indrawi yang otentik di dalam stadion fisik inilah yang tidak akan pernah bisa direplikasi secara utuh oleh avatar piksel digital di layar kaca.
Oleh karena itu, masa depan konser metaverse bukanlah sebagai pengganti konser fisik, melainkan sebagai media pelengkap (hybrid extension). Bioskop dan promoter musik akan menggunakan metaverse sebagai sarana teaser, acara peluncuran album interaktif, atau saluran pertunjukan khusus bagi basis penggemar global yang memang tidak terjangkau oleh jadwal tur fisik sang artis. Metaverse akan tetap hidup sebagai ceruk pasar hiburan digital, namun konser fisik langsung tetap memegang mahkota sebagai puncak pengalaman menikmati musik.