Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak, Riau, meluas hingga memasuki kawasan konservasi Taman Nasional Zamrud. Kondisi ini menjadi perhatian karena wilayah tersebut memiliki ekosistem gambut yang rentan terbakar saat musim kemarau.
Api dilaporkan telah merambat sekitar 100 meter ke dalam kawasan taman nasional. Kebakaran awalnya terjadi di area sekitar batas kawasan sebelum akhirnya menjalar ke wilayah konservasi.
Kepala Bidang Teknis Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Ujang Holisudin, mengatakan keberadaan api di dalam kawasan TN Zamrud telah teridentifikasi sejak beberapa hari sebelumnya.
Penyebaran api dipengaruhi kondisi lahan dan vegetasi yang kering. Karakteristik lahan gambut juga membuat penanganan kebakaran menjadi lebih sulit, terutama ketika angin membantu membawa api ke area lain.
Penanganan karhutla melibatkan berbagai unsur, termasuk TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, serta perusahaan di sekitar lokasi. Tim gabungan melakukan pemadaman melalui jalur darat dan udara untuk menjangkau titik-titik kebakaran.
Di lokasi yang sulit ditangani secara langsung, petugas juga membuat sekat bakar. Langkah tersebut bertujuan memperlambat atau menghentikan pergerakan api agar tidak semakin jauh memasuki kawasan konservasi.
Selain memadamkan api yang terlihat, petugas juga berupaya mencegah munculnya titik panas baru. Proses ini penting karena bara yang masih tersisa dapat kembali memicu kebakaran, terutama pada kondisi lahan yang kering.
Bupati Siak Afni Z mengatakan kondisi kebakaran saat ini telah jauh lebih terkendali. Menurutnya, api sudah berhasil dipadamkan dan penanganan berlanjut pada tahap pendinginan.
Sekitar 300 personel masih dikerahkan untuk memastikan tidak terdapat bara yang dapat menyebabkan kebakaran kembali. Penanganan dilakukan melalui koordinasi berbagai instansi agar kondisi di sekitar kawasan konservasi benar-benar aman.
Masuknya api ke Taman Nasional Zamrud menunjukkan bahwa karhutla di wilayah gambut dapat berkembang melampaui batas kawasan dan mengancam lingkungan yang memiliki nilai konservasi tinggi. Karena itu, pemantauan dan proses pendinginan tetap menjadi bagian penting setelah api utama berhasil dikendalikan.