Ranking kelas sebenarnya bisa memberikan gambaran sederhana mengenai hasil akademik, tetapi masalah muncul ketika ranking dijadikan ukuran utama keberhasilan seorang anak. Anak yang selalu berada di peringkat atas mungkin merasa harus mempertahankan posisinya dan takut sekali mengalami penurunan. Sementara anak yang berada di peringkat bawah bisa mulai menganggap dirinya bodoh, meskipun sebenarnya memiliki kemampuan lain yang tidak terlihat dari nilai ujian. Kalau kondisi tersebut berlangsung lama, sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar bisa terasa seperti tempat untuk terus membuktikan diri.
Yang lebih berbahaya adalah ketika orang tua membandingkan anak berdasarkan ranking. Kalimat seperti "Kenapa kamu tidak bisa seperti dia?" mungkin terlihat sederhana, tetapi bisa membuat anak merasa bahwa kasih sayang atau penghargaan hanya diberikan ketika mereka berprestasi. Bukan berarti pencapaian akademik tidak penting. Nilai tetap bisa digunakan untuk mengevaluasi proses belajar, tetapi sebaiknya tidak menjadi satu-satunya ukuran kemampuan anak. Anak juga perlu dihargai karena ketekunan, kreativitas, kemampuan bekerja sama, keberanian mencoba, dan perkembangan dirinya sendiri. Pendidikan seharusnya membantu anak berkembang, bukan membuat mereka takut hanya karena berada di posisi tertentu dalam sebuah daftar.