Mundurnya Gubernur Bank Indonesia nampaknya bukan sekedar berita biasa. Ini bisa jadi sinyalemen kua... Mundurnya Gubernur Bank Indonesia nampaknya bukan sekedar berita biasa. Ini bisa jadi sinyalemen kuat bahwa ada yang sangat salah di tubuh pengelola ekonomi negara.
Bank Indonesia adalah penjaga terakhir stabilitas moneter: mengatur suku bunga, mengawal inflasi, menjaga nilai rupiah, dan menjadi benteng terakhir ketika ekonomi goyah. Ketika gubernurnya mundur di tengah situasi perekonomian yang sedang tidak baik-baik saja, maka itu bukan keputusan pribadi semata. Itu biasanya karena tekanan politik yang sangat besar, perbedaan visi yang tak bisa lagi didamaikan, atau kondisi dimana ia tak mau lagi menjadi tameng atas kebijakan pemerintah yang dianggap destruktif.
Lihat saja konteksnya:
Rupiah sedang tertekan, inflasi menggerogoti daya beli rakyat, beban utang negara membengkak, sementara pemerintah terus mengejar target penerimaan pajak dan pungutan dengan cara-cara yang semakin arogan dan agresif — termasuk melibatkan Babinsa dan Babinkamtibmas untuk menagih rakyat kecil.
Maka mundurnya Gubernur BI di saat seperti ini seperti membawa pesan keras: bahwa ada yang gak beres antara kebijakan moneter yang seharusnya independen dengan intervensi politik yang semakin kental. BI seolah dipaksa untuk mendukung ambisi fiskal pemerintah yang rakus, padahal tugas utamanya adalah menjaga kestabilan, bukan menjadi supporter proyek-proyek ambisius yang membengkakkan defisit.
Ini bukan sekedar pergantian pejabat, tapi gejala pelemahan institusi negara. Ketika kepala bank sentral yang seharusnya independen mundur, artinya ruang gerak teknokrat semakin sempit. Yang menang adalah politik jangka pendek: yakni, kebutuhan duit untuk bayar utang, membiayai program populis, dan proyek-proyek mercusuar ambisius.
Rakyat yang sudah terhimpit krisis — harga naik, lapangan kerja susah, pajak semakin mencekik — kini juga harus menyaksikan puncak-puncak ekonomi negara mulai goyah. Mundurnya gubernur BI bukanlah akhir masalah, melainkan pembuka babak baru ketidakpastian.
Bahwa negara ini semakin menunjukkan wajah aslinya: haus uang, institusi lemah, dan rela mengorbankan stabilitas demi ambisi penguasa. Ketika bank sentralnya saja mulai goyah, maka pertanyaannya bukan lagi "siapa penggantinya", melainkan sampai mana lagi sistem ini bisa bertahan sebelum semuanya runtuh di atas pundak rakyat kecil.Lihat Selengkapnya
Mundurnya Gubernur Bank Indonesia
Dipublikasikan: 1 jam lalu
·
0
·
2 mnt baca
Mundurnya Gubernur Bank Indonesia (Gambar: Negeri Konoha)
Mundurnya Gubernur Bank Indonesia nampaknya bukan sekedar berita biasa. Ini bisa jadi sinyalemen kua... Lihat Selengkapnya