Menjadi generasi sandwich memang memiliki tekanan finansial yang cukup berat karena satu penghasilan bisa harus digunakan untuk kebutuhan diri sendiri sekaligus membantu orang tua dan keluarga lainnya. Di satu sisi, mereka perlu menyiapkan masa depan seperti dana darurat, rumah, pendidikan anak, atau investasi. Di sisi lain, ada kebutuhan keluarga yang tidak bisa begitu saja diabaikan. Akhirnya uang yang seharusnya digunakan untuk membangun aset dan tabungan jangka panjang sering kali habis untuk memenuhi kebutuhan beberapa generasi sekaligus.
Masalahnya bukan selalu karena seseorang tidak bisa mengatur uang. Beban yang ditanggung memang bisa jauh lebih besar dibanding orang yang hanya bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Karena itu, menurut saya solusi generasi sandwich tidak cukup hanya dengan menyuruh mereka lebih hemat. Perlu ada komunikasi terbuka dengan keluarga mengenai kemampuan finansial, batas bantuan yang sanggup diberikan, serta perencanaan kebutuhan orang tua. Kalau semua kebutuhan keluarga harus ditanggung satu orang tanpa batas, tujuan kebebasan finansial memang akan semakin sulit dicapai.
Yang juga penting adalah jangan sampai membantu keluarga membuat kondisi finansial sendiri benar-benar hancur. Bantuan tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan. Kalau memungkinkan, bangun dana darurat dan aset secara perlahan sambil tetap membantu keluarga. Tidak ada gunanya memaksakan diri sampai tidak memiliki cadangan sama sekali. Kebebasan finansial mungkin membutuhkan waktu lebih lama bagi generasi sandwich, tetapi bukan berarti mustahil. Kuncinya adalah membuat batas yang sehat dan merencanakan uang berdasarkan kebutuhan beberapa tahap kehidupan sekaligus.