Media sosial memiliki pengaruh besar terhadap cara pemilih pemula mengenal isu dan tokoh politik. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang lebih banyak mendapatkan informasi politik melalui televisi, surat kabar, atau kampanye langsung, pemilih muda sekarang bisa menemukan berbagai informasi politik hanya dari linimasa media sosial.
Masalahnya, informasi yang muncul di media sosial tidak selalu dipilih berdasarkan tingkat kebenarannya. Algoritma cenderung menampilkan konten yang dianggap menarik bagi pengguna, sehingga seseorang bisa terus melihat pendapat yang serupa dengan apa yang sebelumnya mereka sukai. Kondisi ini dapat membuat sudut pandang tertentu terasa seperti satu-satunya pendapat yang benar.
Media sosial juga membuat komunikasi politik menjadi lebih sederhana dan cepat. Video pendek, meme, komentar, dan konten kreator dapat membuat isu politik lebih mudah dipahami oleh anak muda. Namun, penyederhanaan tersebut juga memiliki risiko karena persoalan yang sebenarnya kompleks bisa terlihat seolah-olah hanya memiliki jawaban sederhana.
Pemilih pemula karena itu perlu memiliki kemampuan literasi digital yang baik. Sebelum mempercayai sebuah informasi politik, mereka bisa memeriksa sumber, membandingkan pemberitaan dari beberapa media, melihat konteks lengkap, dan membedakan fakta dari opini. Jangan sampai pilihan politik hanya terbentuk karena sebuah video viral atau unggahan yang sering muncul di linimasa.
Pada akhirnya, media sosial hanyalah salah satu sumber informasi. Keputusan politik sebaiknya dibuat setelah memahami program, rekam jejak, isu yang dibahas, dan berbagai perspektif yang tersedia. Semakin kritis seseorang dalam menggunakan media sosial, semakin besar peluangnya membuat pilihan politik berdasarkan informasi, bukan sekadar mengikuti tren.