Media sosial membuat orang bisa berkomunikasi dengan siapa saja, tetapi pada saat yang sama membuat perbedaan keyakinan jauh lebih mudah berubah menjadi konflik. Satu komentar yang sebenarnya hanya ingin menyampaikan pendapat bisa dianggap sebagai serangan oleh orang lain, apalagi ketika pembahasannya menyangkut agama. Masalahnya menjadi semakin besar ketika orang langsung membagikan potongan video, kutipan, atau informasi tanpa memeriksa konteksnya terlebih dahulu.
Menurut saya, salah satu bentuk toleransi yang paling sederhana adalah belajar menahan diri sebelum mengetik. Tidak semua perbedaan harus dibalas dan tidak semua komentar harus dimenangkan. Kalau ingin mengkritik sebuah pendapat keagamaan, kritiklah argumennya tanpa menghina orang yang mempercayainya. Hindari juga menyebarkan konten yang sengaja memancing kebencian terhadap kelompok tertentu hanya karena ingin mendapatkan banyak komentar atau perhatian.
Kita juga perlu membedakan antara kebebasan berpendapat dengan penghinaan. Setiap orang berhak menjalankan dan membicarakan keyakinannya, tetapi kebebasan tersebut tetap perlu digunakan secara bertanggung jawab. Kalau diskusi sudah berubah menjadi saling menghina, terkadang pilihan terbaik adalah berhenti melanjutkan percakapan. Menurut saya, toleransi bukan berarti semua orang harus memiliki keyakinan yang sama, tetapi mampu hidup dan berkomunikasi dengan orang yang berbeda tanpa merasa perlu merendahkan mereka.