Saya dulu mengira hidup minimalis berarti harus membuang hampir semua barang dan tinggal dengan sesuatu yang benar-benar sedikit. Setelah dipikir-pikir, ternyata inti dari minimalisme bukan soal punya barang sesedikit mungkin, tetapi soal memilih apa yang memang penting dan berhenti memenuhi hidup dengan hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Ketika rumah mulai penuh barang, kepala juga kadang ikut terasa penuh. Ada barang yang harus dirawat, dibersihkan, dipindahkan, bahkan dibeli lagi karena tergoda sesuatu yang baru. Saat jumlah barang dikurangi, perhatian kita bisa kembali ke hal yang lebih penting, seperti waktu bersama keluarga, pekerjaan, kesehatan, atau sekadar menikmati waktu sendiri tanpa terus merasa harus membeli sesuatu.
Menurut saya, rasa bahagia dari hidup minimalis lebih banyak datang dari berkurangnya beban daripada bertambahnya barang. Kita jadi tidak terlalu sibuk mengejar apa yang dimiliki orang lain dan mulai memahami bahwa tidak semua hal harus dibeli hanya karena sedang populer. Minimalisme juga tidak harus diterapkan secara ekstrem. Tidak perlu membuang barang yang masih berguna hanya demi mengikuti tren. Cukup mulai dengan bertanya sebelum membeli sesuatu: apakah saya benar-benar membutuhkan ini atau hanya sedang ingin? Pertanyaan sederhana seperti itu bisa membuat pengeluaran lebih terkontrol dan membuat kita lebih sadar terhadap cara menjalani hidup. Pada akhirnya, hidup terasa lebih ringan ketika kita tidak terus-menerus mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak kita perlukan.