Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.
AISYAH DAN KEHIDUPAN SEDERHANA DI RUMAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم
Ini adalah kisah yang paling sering diceritakan oleh Ummul Mu'minin Aisyah radhiyallahu 'anha sendiri.
1. Rumah yang Sangat Sederhana
Rumah Rasulullah صلى الله عليه وسلم bukanlah istana. Dindingnya dari tanah liat, atapnya dari pelepah kurma, lantainya hanya tanah. Ukurannya sangat kecil, sampai-sampai Aisyah pernah berkata, ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم sholat malam, beliau harus melipat kakinya karena tidak cukup tempat untuk sujud jika Aisyah sedang tidur terlentang.
Perabotnya pun apa adanya. Bantal beliau adalah kulit yang diisi serabut pohon kurma. Kasurnya hanyalah tikar anyaman yang membekas di tubuh beliau. Di sudut rumah hanya ada beberapa kendi tanah liat untuk air.
2. Dapur yang Jarang Mengepul
Aisyah RA pernah berkata kepada keponakannya, Urwah bin Zubair:
"Wahai anak saudaraku, kami pernah melihat hilal, kemudian hilal lagi, kemudian hilal lagi - tiga hilal dalam dua bulan - sedangkan tidak ada api yang menyala di rumah-rumah Rasulullah (untuk memasak)."
Urwah bertanya, "Lalu apa yang kalian makan?"
Aisyah menjawab, "Dua yang hitam: kurma dan air. Kecuali jika ada tetangga dari Anshar yang mengirim sedikit susu." (HR. Bukhari & Muslim)
Makanan sehari-hari mereka adalah roti gandum kasar dari jelai (sya'ir), bukan gandum halus, beberapa butir kurma, dan air putih. Dalam gambar itu terlihat roti pipih, kurma, dan kendi air - itulah jamuan mereka.
3. Cinta dan Keberkahan, Bukan Kemewahan
Meski hidup dalam kesederhanaan yang luar biasa, rumah itu adalah rumah paling bahagia di muka bumi. Di sanalah Rasulullah صلى الله عليه وسلم bercanda dengan Aisyah, berlomba lari dengannya, membantu menjahit bajunya sendiri yang robek, dan memerah susu kambing.
Suatu malam, Aisyah menangis karena lampu minyak habis. Rasulullah صلى الله عليه وسلم menghiburnya dan bersabda bahwa kesederhanaan ini adalah pilihan. Allah menawarkan kepada beliau gunung Uhud menjadi emas, tapi beliau menolak dan memilih menjadi hamba yang lapar sehari dan kenyang sehari, agar bisa banyak bersyukur dan bersabar.
Di atas tikar itulah Al-Qur'an dibacakan. Lampu minyak kecil itu menjadi saksi tadarus mereka berdua hingga larut malam, seperti yang tergambar ada mushaf di atas rehal kayu.