Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.
Ketika Langit Borneo Menjadi Gelap
Tahun 1942.
Hutan Kalimantan yang biasanya dipenuhi suara burung, gemericik sungai, dan nyanyian masyarakat di rumah panjang mendadak diselimuti ketakutan. Kabar tentang pasukan Jepang yang bergerak memasuki wilayah Borneo menyebar dari kampung ke kampung.
Di sebuah kampung Dayak kecil di pedalaman Kalimantan Tengah, hiduplah seorang gadis berusia 17 tahun bernama Lawang Bulan.
Bulan memiliki rambut hitam panjang, mata tajam, dan tubuh yang terbiasa berjalan melewati hutan lebat. Sejak kecil, ia belajar mengenali jejak binatang, mencari tanaman obat, mendayung perahu di sungai, serta membaca tanda-tanda alam dari ayahnya, seorang pemburu yang disegani di kampung.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah diajarkan ayahnya.Bagaimana bertahan hidup ketika manusia sendiri menjadi ancaman paling menakutkan.
Bab 1 — Asap di Balik Pepohonan
Pagi itu, Bulan sedang mengambil air di tepi sungai ketika suara ledakan terdengar dari arah hilir.
Duarrr!
Burung-burung beterbangan meninggalkan pepohonan.
Bulan menjatuhkan tempayannya. Dari balik kabut pagi, ia melihat asap hitam menjulang di atas hutan.
Ia berlari pulang.
“Bapak! Ada apa di luar sana?”
Ayahnya, Jaya, berdiri di depan rumah panjang sambil menggenggam mandau. Wajahnya yang biasanya tenang kini berubah tegang.
“Pasukan Jepang sudah masuk ke daerah pesisir,” katanya. “Kampung-kampung di hilir mulai ditinggalkan.”
Ibunya segera mengumpulkan pakaian, beras, garam, dan obat-obatan ke dalam keranjang rotan. Anak-anak menangis. Para tetua berunding dengan suara rendah.
“Kita harus pergi ke hutan,” ujar Jaya. “Sekarang.”
Namun, sebelum seluruh warga sempat bersiap, suara mesin kendaraan terdengar dari jalan tanah di ujung kampung.
Panik melanda.
Jaya menyuruh Bulan membawa adiknya, Lilis, yang baru berusia sembilan tahun, menuju sungai kecil di belakang rumah panjang.
“Dengarkan Bapak,” katanya sambil memegang bahu Bulan. “Apa pun yang terjadi, jaga adikmu. Jangan biarkan dia sendirian.”
“Bapak ikut kami, kan?”
Jaya terdiam sesaat.Lalu ia tersenyum tipis.
“Bapak akan menyusul.”
Itulah janji terakhir yang Bulan dengar darinya pagi itu.
Ketika Bulan dan Lilis menghilang di antara pepohonan, suara tembakan mulai terdengar dari arah kampung.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Bulan berlari bukan untuk berburu, melainkan untuk menyelamatkan keluarganya.
Bab 2 — Hutan yang Menjadi Rumah
Selama tiga hari, Bulan dan Lilis berjalan menyusuri hutan.
Mereka tidur di bawah akar pohon besar, meminum air dari aliran sungai yang jernih, dan memakan umbi serta buah-buahan yang dikenali Bulan.
Lilis mulai kelelahan.
“Kak, kapan kita pulang?”
Bulan tidak langsung menjawab.
Ia sendiri tidak tahu apakah rumah mereka masih berdiri.
“Kita akan pulang kalau keadaan sudah aman,” katanya, berusaha terdengar yakin.
Pada malam keempat, hujan turun deras. Mereka menemukan sebuah pondok tua milik pencari damar dan berlindung di dalamnya.
Saat Bulan menyalakan pelita kecil, terdengar suara langkah dari luar.
Ia segera mematikan api dan menarik Lilis ke balik tumpukan kayu.
Seseorang memasuki pondok.“Aku bukan musuh,” lanjut lelaki itu. “Namaku Panglima Sangi. Aku mencari warga kampung yang mengungsi.”
Bulan keluar perlahan.
Lelaki tua itu mengenal lambang anyaman pada tasnya. Ia berasal dari kelompok masyarakat Dayak di wilayah yang sama.
Setelah mendengar kisah mereka, Sangi memberikan makanan dan mengantar keduanya ke sebuah tempat perlindungan di pedalaman.
Di sana, puluhan keluarga telah berkumpul. Ada yang kehilangan rumah, ada yang terpisah dari orang tua, dan ada pula yang tidak mengetahui nasib anggota keluarga mereka.
Bulan akhirnya memahami bahwa penderitaan mereka bukan hanya milik satu keluarga.
Seluruh kampung sedang berjuang untuk bertahan hidup.