Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

MARIYAH AL-QIBTHIYYAH DAN KELAHIRAN IBRAHIM PUTRA RASULULLAH صلى الله عليه وسلم

MARIYAH AL-QIBTHIYYAH DAN KELAHIRAN IBRAHIM PUTRA RASULULLAH صلى الله عليه وسلم gambar oleh Fahmi Ilman
1. Hadiah dari Raja Mesir Mariyah bukan dari suku Quraisy. Ia adalah seorang wanita Qibthi (Mesir) yang cantik dan berakhlak mulia, hadiah dari Raja Muqauqis di Alexandria, Mesir, setelah menerima surat dakwah dari Rasulullah ﷺ pada tahun ke-7 Hijriyah. Bersama saudara perempuannya, Sirin, Mariyah dibawa oleh Hatib bin Abi Balta'ah menuju Madinah. Di perjalanan, Hatib mendakwahinya dan ia masuk Islam sebelum sampai ke Madinah. Rasulullah ﷺ menempatkan Mariyah di daerah 'Aliyah Madinah dan kemudian menikahinya. Ia adalah satu-satunya istri Rasulullah yang melahirkan anak laki-laki setelah Khadijah RA. 2. Kebahagiaan Besar: Lahirnya Ibrahim Bertahun-tahun Rasulullah ﷺ telah kehilangan putra-putranya. Qasim, Abdullah, dan putra-putra dari Khadijah wafat saat kecil. Maka ketika pada bulan Dzulhijjah tahun 8 H Mariyah melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan, kebahagiaan Rasulullah ﷺ sangat besar. Rasulullah ﷺ memberi nama bayi itu Ibrahim, mengambil nama kekasih Allah, Nabi Ibrahim AS. Beliau menggendongnya, mengazankannya, dan melakukan aqiqah. Anas bin Malik RA berkata: Rasulullah sangat menyayangi Ibrahim. Hampir setiap hari beliau berjalan kaki ke rumah Mariyah di 'Aliyah untuk melihat putranya itu, meski jaraknya cukup jauh dari Masjid Nabawi. 3. Takdir Allah dan Air Mata Seorang Ayah Namun kebahagiaan itu tidak lama. Seperti dalam gambar yang penuh cahaya itu, Ibrahim adalah titipan. Di usia 16-18 bulan, Ibrahim sakit keras. Rasulullah ﷺ datang dengan Abdurrahman bin Auf. Ketika melihat Ibrahim di pangkuan Mariyah dalam keadaan sekarat, air mata Rasulullah ﷺ mengalir deras. Abdurrahman bertanya, "Engkau pun menangis, ya Rasulullah?" Beliau menjawab: "Ini adalah kasih sayang. Sesungguhnya mata menangis, hati bersedih, namun kita tidak mengucapkan kecuali yang diridhai Tuhan kita. Wahai Ibrahim, sungguh kami sangat berduka karena berpisah denganmu." (HR. Bukhari) Ibrahim wafat pada tahun 10 H. Pada hari yang sama terjadi gerhana matahari. Orang-orang berkata, matahari gerhana karena kematian Ibrahim. Rasulullah ﷺ segera naik mimbar dan meluruskan: "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah tanda-tanda kekuasaan Allah, tidak gerhana karena mati atau hidupnya seseorang." Mariyah hidup beberapa tahun setelah Rasulullah ﷺ wafat dan meninggal pada masa Khalifah Umar RA, dimakamkan di Baqi'.
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

0 Komentar