Utang konsumtif menjadi berbahaya ketika kita menggunakan uang pinjaman untuk membeli sesuatu yang nilainya tidak menghasilkan pendapatan atau manfaat finansial jangka panjang, sementara cicilannya tetap harus dibayar. Contohnya bisa berupa membeli barang hanya karena mengikuti tren, menggunakan kredit untuk gaya hidup, atau terus berutang untuk memenuhi keinginan yang sebenarnya masih bisa ditunda. Masalahnya bukan hanya jumlah utangnya, tetapi biaya tambahan seperti bunga dan biaya lainnya yang membuat harga sebenarnya menjadi lebih mahal.
Kalau utang konsumtif menumpuk, sebagian penghasilan masa depan sudah habis untuk membayar keputusan yang dibuat sebelumnya. Akibatnya, uang yang seharusnya bisa digunakan untuk menabung, membangun dana darurat, investasi, atau kebutuhan penting malah digunakan untuk cicilan. Kondisi ini juga bisa membuat seseorang terpaksa mengambil utang baru untuk membayar utang lama. Menurut saya, sebelum mengambil cicilan, pertanyaan yang cukup penting adalah: apakah barang ini benar-benar dibutuhkan dan apakah penghasilan kita tetap aman setelah cicilan tersebut masuk ke pengeluaran bulanan? Kalau jawabannya membuat keuangan menjadi terlalu sempit, lebih baik menunda daripada memaksakan diri.