Kalau kita melihat sejarah agama, perbedaan aliran sebenarnya bukan sesuatu yang muncul begitu saja dalam waktu singkat. Setelah sebuah ajaran berkembang ke wilayah dan masyarakat yang berbeda, muncul berbagai cara dalam memahami teks, sejarah, tradisi, dan persoalan kehidupan. Perbedaan bahasa, budaya, kondisi politik, serta pemikiran tokoh-tokoh agama juga bisa ikut memengaruhi cara sebuah ajaran dipahami. Dari proses yang panjang itu, akhirnya terbentuk kelompok-kelompok yang memiliki penekanan atau pemahaman tertentu.
Menurut saya, perbedaan seperti ini perlu dilihat dengan kepala dingin. Tidak semua perbedaan otomatis berarti salah satu pihak tidak memiliki dasar, dan tidak semua kelompok yang berbeda harus diperlakukan sebagai musuh. Ada perbedaan yang memang menyangkut prinsip dasar, tetapi ada juga yang hanya berkaitan dengan cara menjalankan tradisi atau memahami persoalan tertentu. Yang paling penting adalah membedakan antara diskusi keagamaan dengan tindakan yang merendahkan atau menyakiti orang lain.
Sejarah juga menunjukkan bahwa ketika perbedaan identitas agama dicampur dengan kepentingan politik, kekuasaan, atau konflik sosial, persoalannya bisa menjadi jauh lebih rumit. Karena itu, menurut saya memahami sejarah munculnya berbagai aliran justru bisa membantu seseorang menjadi lebih bijak. Kita bisa tetap memegang keyakinan masing-masing tanpa harus menganggap semua orang yang berbeda sebagai ancaman.