Ketika memilih produk, pelanggan tidak selalu mencari pilihan dengan fitur paling banyak. Sering kali mereka justru memilih sesuatu yang prosesnya paling mudah dipahami dan tidak membuat mereka berpikir terlalu lama.
Bayangkan dua produk memiliki fungsi yang hampir sama. Produk pertama punya banyak menu, pilihan, dan pengaturan. Produk kedua menawarkan fungsi yang sama dengan proses yang lebih sederhana. Bagi sebagian pelanggan, pilihan kedua bisa terasa jauh lebih nyaman.
Hal seperti ini sering terlihat pada proses pembayaran, pemesanan, pendaftaran, sampai penggunaan produk setelah pembelian. Satu langkah tambahan mungkin terlihat sepele bagi pemilik usaha, tetapi bisa menjadi alasan pelanggan membatalkan transaksi.
Kemudahan juga berkaitan dengan cara sebuah produk menjelaskan manfaatnya. Jika calon pelanggan membutuhkan waktu lama hanya untuk memahami apa yang sebenarnya ditawarkan, peluang mereka melanjutkan pembelian bisa ikut menurun.
Bukan berarti produk harus dibuat sesederhana mungkin dan menghilangkan semua fitur. Yang lebih penting adalah membedakan fitur yang memang dibutuhkan dengan fitur yang hanya membuat produk terlihat lebih kompleks.
Pemilik usaha bisa menguji hal ini dengan melihat pertanyaan pelanggan, halaman yang paling sering ditinggalkan, proses transaksi yang gagal, atau bagian produk yang paling sering membutuhkan bantuan.
Kadang masalah penjualan bukan karena produknya kurang bagus. Bisa saja pelanggan hanya merasa terlalu banyak usaha yang harus dilakukan untuk mendapatkan manfaatnya. Ketika pengalaman dibuat lebih jelas dan praktis, nilai produk bisa terasa berbeda tanpa harus mengubah produk secara keseluruhan.