Modal nyangkut di gudang dalam bentuk barang mati (*dead stock*) adalah pembunuh terselubung dalam bisnis ritel dan manufaktur. Untuk mengatasi masalah ini, metode paling ampuh yang bisa kamu terapkan adalah Analisis ABC (ABC Analysis) berdasarkan nilai dan kecepatan perputaran barang. Kategori A adalah barang *fast-moving* bernilai tinggi yang menyumbang mayoritas penjualan, Kategori B adalah barang dengan penjualan sedang, dan Kategori C adalah barang *slow-moving* yang perputarannya sangat lambat.
Setelah mengategorikan barang, kamu harus disiplin menerapkan sistem FIFO (*First In, First Out*) atau LIFO (*Last In, First Out*) sesuai karakteristik produkmu. Untuk produk makanan, kosmetik, atau barang yang memiliki tanggal kadaluarsa, sistem FIFO hukumnya wajib agar barang yang masuk gudang lebih awal dijual terlebih dahulu. Gunakan label warna atau penataan rak yang jelas agar staf gudang tidak asal mengambil barang yang baru saja dibeli dari pemasok, yang akhirnya membuat stok lama membusuk di sudut gudang.
Gunakan konsep *Safety Stock* dan *Reorder Point* (ROP) berbasis data penjualan riil, bukan sekadar naluri (*feeling*). Hitung berapa rata-rata penjualan harianmu dan berapa lama waktu yang dibutuhkan pemasok untuk mengantarkan barang (*lead time*). Saat stok menyentuh titik ROP, barulah kamu melakukan pemesanan ulang. Cara ini mencegah kamu membeli barang terlalu banyak sekaligus yang bikin gudang penuh, tapi juga menghindarkan dari risiko kehabisan stok (*out of stock*) saat permintaan naik.
Jika saat ini kamu sudah terlanjur memiliki *dead stock* yang mengendap lebih dari 6 bulan, jangan ragu untuk melakukan tindakan likuidasi. Lakukan program diskon *bundling* dengan barang Kategori A, obral akhir musim, atau jual rugi sedikit untuk mengembalikan modal tunai. Mengubah barang mati menjadi uang tunai jauh lebih menguntungkan buat arus kas daripada membiarkan nilai barang tersebut habis dimakan waktu dan biaya perawatan gudang.