Menghadapi pasangan yang manipulatif bisa sangat melelahkan karena kita sering dibuat meragukan perasaan dan penilaian sendiri. Manipulasi bisa muncul dalam berbagai bentuk, seperti membuat kita merasa bersalah agar menuruti keinginannya, memutarbalikkan kejadian, sengaja memberikan silent treatment untuk menghukum, mengancam putus setiap kali terjadi perbedaan pendapat, atau selalu membuat dirinya terlihat sebagai korban. Yang membuatnya sulit adalah perilaku tersebut kadang dilakukan secara halus sehingga kita baru sadar setelah pola yang sama terus berulang.
Coba perhatikan bagaimana perasaanmu setelah terjadi konflik. Apakah kamu selalu merasa harus meminta maaf meskipun sebenarnya bukan kamu yang melakukan kesalahan? Apakah kamu mulai takut menyampaikan pendapat karena khawatir pasangan akan marah? Atau apakah kamu sering mempertanyakan ingatan dan penilaian sendiri karena pasangan terus mengatakan bahwa kejadian yang kamu ingat sebenarnya tidak pernah terjadi? Kalau pola seperti ini terus muncul, jangan hanya melihat satu kejadian. Lihat keseluruhan perilakunya.
Bicarakan batasan dengan jelas dan lihat bagaimana respons pasangan ketika batasan tersebut disampaikan. Orang yang benar-benar ingin memperbaiki hubungan mungkin tidak langsung sempurna, tetapi biasanya masih mau mendengar dan mengevaluasi perilakunya. Sebaliknya, kalau setiap batasan justru dibalas dengan ancaman, penghinaan, atau manipulasi yang semakin kuat, kamu perlu mempertimbangkan apakah hubungan tersebut masih sehat untuk dipertahankan. Hubungan yang baik seharusnya memberikan ruang untuk berbeda pendapat tanpa membuat salah satu pihak kehilangan kendali atas dirinya sendiri.