Mukjizat merupakan konsep keagamaan yang biasanya merujuk pada peristiwa luar biasa yang dipercaya terjadi atas kehendak Tuhan dan melampaui kemampuan manusia biasa. Dari sudut pandang agama, mukjizat memiliki makna spiritual dan sering dikaitkan dengan tanda kenabian atau kehendak ilahi. Karena itu, bagi orang yang beriman, menjelaskan mukjizat tidak selalu dianggap sebagai persoalan yang harus diselesaikan melalui mekanisme alamiah.
Sementara itu, sains bekerja dengan metode yang berbeda. Sains membutuhkan pengamatan, bukti yang dapat diperiksa, pengujian, dan kemungkinan untuk mengulang atau memverifikasi suatu fenomena. Kalau sebuah peristiwa tidak dapat diuji secara ilmiah atau hanya diketahui melalui catatan keagamaan, sains tidak bisa begitu saja menyatakan bahwa peristiwa tersebut pasti merupakan mukjizat. Dalam beberapa kasus, sains mungkin menemukan penjelasan alami untuk fenomena yang sebelumnya dianggap misterius, tetapi hal tersebut tidak otomatis menyelesaikan pertanyaan teologis tentang makna spiritualnya.
Menurut saya, penting untuk tidak memaksa satu bidang menjawab pertanyaan yang memang berada di luar metodenya. Sains sangat kuat untuk menjelaskan bagaimana fenomena alam terjadi, sedangkan agama juga membahas pertanyaan tentang makna, keyakinan, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Perdebatan mengenai mukjizat sering menjadi lebih jelas ketika kita memahami batas dan tujuan masing-masing pendekatan.