Matematika sering dianggap menakutkan bukan semata-mata karena materinya sulit. Pengalaman pertama seorang anak dengan matematika juga sangat memengaruhi cara mereka melihat pelajaran tersebut. Kalau sejak awal mereka sering diberi tahu bahwa matematika itu susah, mendapat tekanan ketika salah menghitung, atau merasa tertinggal dari teman-temannya, rasa takut bisa muncul sebelum mereka benar-benar mencoba. Ditambah lagi, beberapa konsep matematika memang saling berhubungan. Kalau dasar sebelumnya belum dipahami, materi berikutnya terasa semakin membingungkan.
Menurut saya, salah satu cara mengubah pandangan tersebut adalah membuat matematika terasa lebih dekat dengan kehidupan. Menghitung uang, membandingkan harga, mengukur sesuatu, membaca data, atau memperkirakan waktu sebenarnya sudah menjadi bagian dari matematika sehari-hari. Anak juga perlu diberi kesempatan untuk salah tanpa langsung merasa gagal. Kesalahan dalam mengerjakan soal bisa menjadi petunjuk tentang bagian mana yang belum dipahami. Kalau proses belajar lebih menekankan pemahaman daripada sekadar mengejar jawaban cepat, matematika perlahan bisa terasa lebih masuk akal. Tidak semua siswa akan langsung menyukai matematika, tetapi mereka bisa belajar bahwa kesulitan bukan berarti mereka tidak mampu.