Perubahan iklim ekstrem semakin membuat persoalan pangan dunia menjadi rumit. Kekeringan panjang, banjir, gelombang panas, perubahan pola hujan, dan cuaca ekstrem dapat mengganggu produksi pertanian sekaligus merusak infrastruktur dan mata pencaharian petani. Dampaknya tidak berhenti di satu daerah karena ketika produksi turun, pasokan berkurang dan harga pangan bisa ikut tertekan. Laporan FAO dan WFP pada 2026 juga menempatkan cuaca ekstrem sebagai salah satu faktor yang dapat memperburuk krisis pangan yang sudah dipengaruhi konflik dan tekanan ekonomi.
Yang membuat situasinya semakin berat adalah perubahan iklim biasanya datang bersamaan dengan masalah lain. Negara yang sedang mengalami konflik mungkin sudah kehilangan lahan pertanian dan jalur distribusi, sementara masyarakat miskin memiliki kemampuan yang lebih kecil untuk menghadapi kenaikan harga. Ketika kekeringan atau banjir datang, mereka bisa kehilangan sumber pendapatan sekaligus harus membeli makanan dengan harga lebih tinggi. Karena itu, menghadapi krisis pangan tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi. Dibutuhkan pertanian yang lebih tahan terhadap perubahan iklim, cadangan pangan, sistem distribusi yang kuat, perlindungan sosial, dan kerja sama internasional agar gangguan produksi di satu wilayah tidak berubah menjadi krisis yang lebih luas.