Banyak tradisi agama memiliki perhatian terhadap penderitaan manusia, rasa putus asa, hubungan sosial, dan pentingnya dukungan dari keluarga maupun komunitas. Doa, ibadah, refleksi, kebersamaan, dan nilai spiritual dapat memberikan rasa makna atau ketenangan bagi sebagian orang. Dalam kondisi tertentu, keyakinan agama juga bisa membantu seseorang melewati masa sulit karena mereka merasa tidak menghadapi hidup sendirian.
Namun masalah kesehatan mental tidak seharusnya selalu dianggap sebagai persoalan kurang iman atau kurang beribadah. Kondisi psikologis manusia sangat kompleks dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor biologis, psikologis, sosial, lingkungan, serta pengalaman hidup. Karena itu, seseorang yang mengalami masalah mental tetap berhak mendapatkan bantuan profesional ketika memang membutuhkannya.
Menurut saya, pendekatan agama dan bantuan profesional tidak harus dipertentangkan. Seseorang bisa mendapatkan dukungan spiritual dari pemuka agama yang dipercaya sekaligus berkonsultasi dengan psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan yang sesuai. Justru kerja sama yang sehat antara dukungan spiritual, keluarga, komunitas, dan layanan profesional dapat membantu seseorang mendapatkan pertolongan yang lebih menyeluruh. Yang paling penting adalah tidak membuat orang yang sedang mengalami kesulitan merasa bersalah karena kondisinya.