Penggunaan AI untuk urusan agama perlu dilihat berdasarkan tujuan penggunaannya. Kalau AI hanya digunakan untuk membantu mencari informasi, merangkum teks keagamaan, menerjemahkan istilah, membuat jadwal belajar, atau membantu memahami pertanyaan dasar, teknologi tersebut bisa menjadi alat bantu yang praktis. Tetapi AI bukan sumber wahyu dan tidak memiliki otoritas keagamaan dengan sendirinya. Jawaban yang diberikan juga bisa keliru karena AI bekerja berdasarkan data dan pola bahasa, bukan karena memiliki kemampuan spiritual.
Karena itu, saya tidak akan menjadikan jawaban AI sebagai satu-satunya dasar untuk menentukan hukum ibadah, terutama ketika pertanyaannya berkaitan dengan persoalan agama yang serius atau memiliki perbedaan pendapat. Jawaban AI sebaiknya digunakan sebagai titik awal untuk memahami persoalan, kemudian diverifikasi melalui kitab, sumber keagamaan yang terpercaya, atau tokoh agama yang kompeten sesuai tradisi yang dianut.
Hal yang sama berlaku ketika AI digunakan untuk membuat konten keagamaan. Jangan hanya menyalin jawaban karena terdengar meyakinkan. Periksa sumber, konteks, dan ketepatan kutipan terlebih dahulu. Teknologi bisa membantu manusia belajar agama dengan lebih mudah, tetapi tanggung jawab untuk memastikan kebenaran informasi tetap berada pada penggunanya. Dalam urusan ibadah, kehati-hatian jauh lebih penting daripada sekadar mendapatkan jawaban dengan cepat.