Hubungan jarak jauh atau LDR punya tantangan yang berbeda karena pasangan tidak bisa bertemu kapan saja ketika sedang rindu, marah, atau membutuhkan dukungan. Hal kecil yang biasanya bisa diselesaikan lewat pertemuan langsung akhirnya harus dibicarakan melalui pesan atau panggilan. Karena tidak melihat ekspresi dan bahasa tubuh secara langsung, satu kalimat pendek pun kadang bisa disalahartikan. Kalau komunikasi semakin jarang dan kedua pihak mulai menyimpan banyak asumsi sendiri, jarak yang awalnya hanya soal tempat bisa berubah menjadi jarak emosional.
Komunikasi yang baik dalam hubungan LDR bukan berarti harus chat sepanjang hari. Yang lebih penting adalah adanya pola komunikasi yang jelas dan sesuai kesepakatan bersama. Ada pasangan yang nyaman sering bertukar pesan, sementara pasangan lain lebih suka melakukan panggilan pada waktu tertentu. Keduanya tidak masalah selama kebutuhan masing-masing dibicarakan. Kalau sedang sibuk, memberi tahu pasangan juga jauh lebih baik daripada tiba-tiba menghilang lalu membuat orang lain menebak-nebak.
Menurut saya, LDR membutuhkan kepercayaan yang dibangun dari kebiasaan kecil. Jangan hanya berbicara ketika ada masalah. Ceritakan juga hal sederhana tentang hari yang dijalani, rencana ke depan, kekhawatiran, dan hal yang sedang dipikirkan. Kalau komunikasi hanya berisi laporan seperti sudah makan atau sudah tidur, hubungan bisa terasa seperti kewajiban. Kedekatan emosional tetap perlu dirawat meskipun secara fisik berjauhan. Pada akhirnya, LDR bukan cuma soal seberapa sering dua orang berkomunikasi, tetapi seberapa aman mereka merasa untuk jujur satu sama lain.