Media sosial sendiri tidak otomatis buruk. Masalahnya muncul ketika penggunaannya berubah menjadi kebiasaan kompulsif sampai sulit dikendalikan dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari. Seseorang bisa terus membuka aplikasi meskipun sebenarnya tidak ingin, merasa gelisah ketika jauh dari ponsel, atau menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk melihat konten tanpa tujuan yang jelas. Kalau berlangsung lama, pola seperti ini bisa berkaitan dengan masalah tidur, sulit berkonsentrasi, stres, kecemasan, dan perasaan tidak puas terhadap kehidupan sendiri. Dampaknya juga bisa berbeda pada setiap orang karena kondisi psikologis dan lingkungan sosial masing-masing tidak sama.
Salah satu masalah yang sering dibicarakan adalah perbandingan sosial. Di media sosial, kita biasanya melihat bagian kehidupan orang lain yang sudah dipilih dan ditampilkan dengan cara tertentu. Kalau terus dibandingkan dengan kehidupan sendiri, seseorang bisa merasa tertinggal, kurang sukses, kurang menarik, atau kurang bahagia. Sistem rekomendasi juga dapat membuat pengguna terus menerima konten yang sesuai dengan minat dan emosinya sehingga waktu penggunaan semakin panjang. Karena itu, mengatasi adiksi media sosial bukan sekadar menghapus aplikasi. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan penggunaan yang sehat, membatasi waktu layar, menjaga kualitas tidur, tetap punya aktivitas di dunia nyata, dan menyadari bagaimana konten memengaruhi suasana hati. Kalau penggunaan media sosial sudah benar-benar mengganggu fungsi sehari-hari atau kondisi psikologis, bantuan profesional juga layak dipertimbangkan.