Pertanyaan tentang kelemahan saat interview sering membuat saya sedikit bingung, karena rasanya seperti diminta mencari kesalahan diri sendiri lalu mengatakannya kepada orang yang sedang menilai kita. Tapi kalau dipikir lagi, HRD sebenarnya tidak selalu mencari kandidat yang mengaku sempurna. Mereka ingin melihat apakah kita mengenal diri sendiri dan punya usaha untuk memperbaiki kekurangan. Jadi, daripada menjawab dengan kelemahan yang dibuat-buat seperti “saya terlalu perfeksionis”, lebih baik menyebut sesuatu yang memang pernah menjadi tantangan tetapi masih bisa dikelola dan tidak menghancurkan kemampuan utama untuk menjalankan pekerjaan. Misalnya, saya pernah kurang percaya diri ketika harus berbicara di depan banyak orang, lalu mulai melatih diri dengan lebih sering melakukan presentasi kecil dan mempersiapkan materi jauh sebelum waktunya.
Yang penting adalah jangan berhenti pada pengakuan bahwa kita punya kelemahan. Jelaskan juga apa yang sudah dilakukan untuk mengatasinya dan bagaimana perkembangan kita sekarang. Dengan begitu, jawaban terdengar lebih jujur dan menunjukkan kemauan untuk berkembang. Hindari menyebut kelemahan yang sebenarnya merupakan kemampuan utama dari posisi yang dilamar, karena itu justru bisa membuat pewawancara ragu. Menurut saya, jawaban terbaik bukan yang membuat kita terlihat sempurna, tetapi yang menunjukkan bahwa kita cukup dewasa untuk mengakui kekurangan tanpa menjadikannya alasan untuk berhenti berkembang. Interview sebenarnya bukan ajang membuktikan bahwa kita tidak punya kelemahan, melainkan kesempatan menunjukkan bagaimana kita menghadapi kelemahan tersebut.