Linux Satu
59 menit
Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

Video Seorang Karyawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mendadak Menjadi

Video Seorang Karyawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mendadak Menjadi gambar oleh Linux Satu
Sorotan Setelah Membuat Konten Parodi Yang Berkaitan Dengan Makanan Dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Video tersebut awalnya diunggah melalui Instagram Story. Dalam rekaman itu, seorang perempuan terlihat berada di depan makanan MBG dan memperhatikan keterangan mengenai batas waktu makanan tersebut untuk dikonsumsi. Ia kemudian menyebut bahwa dirinya baru akan menyantap makanan tersebut sambil melihat informasi yang tercantum pada kemasan. Dari balik kamera, terdengar seseorang menyebutkan bahwa makanan tersebut memiliki batas waktu konsumsi hingga pukul 12.00 WIB. Bukannya membahas soal makanan tersebut secara serius, perempuan itu kemudian melakukan adegan seolah-olah mengalami kehilangan ingatan. Ia bertanya kepada orang di dekatnya, “Aku siapa? Kamu siapa?” sebelum kemudian tertawa dan mengatakan bahwa dirinya lupa ingatan. “Aah, hilang ingatan, guys!” ucapnya dalam video tersebut. Potongan video itu kemudian menyebar ke berbagai platform media sosial dan mendapatkan beragam reaksi dari warganet. Sebagian publik menilai konten tersebut tidak pantas karena dibuat oleh seseorang yang diketahui bekerja di lingkungan SPPG, sementara isu mengenai keamanan makanan MBG masih menjadi perhatian masyarakat. Video tersebut juga dinilai oleh sejumlah warganet memiliki kemiripan dengan kasus sebelumnya, ketika seorang siswi korban dugaan keracunan MBG di Kabupaten Karo menjadi perhatian publik karena diberitakan mengalami gangguan ingatan. Karena konteks tersebut, aksi berpura-pura kehilangan ingatan dalam video karyawan SPPG tersebut kemudian dianggap sebagai sindiran terhadap persoalan yang sedang dihadapi korban. Namun, hal itu merupakan penilaian publik terhadap isi video, bukan pengakuan bahwa pembuat video memang bermaksud mengejek korban tertentu. Kritik semakin ramai setelah diketahui bahwa perempuan yang muncul dalam video merupakan karyawan SPPG. Sejumlah warganet kemudian meminta yang bersangkutan memberikan klarifikasi bahkan meminta maaf karena konten tersebut dinilai dapat menimbulkan persepsi negatif terhadap program MBG. Namun, respons perempuan tersebut justru kembali menjadi sorotan. Ia mengaku tidak merasa melakukan kesalahan sehingga mempertanyakan alasan dirinya harus meminta maaf. “Aku merasa tidak punya salah ke siapa pun, kenapa aku disuruh minta maaf?” ujarnya. Ia bahkan menyampaikan pernyataan tersebut sambil tertawa ketika membahas permintaan warganet agar dirinya meminta maaf. Perempuan tersebut kemudian memberikan penjelasan mengenai tujuan pembuatan videonya. Menurut pengakuannya, konten tersebut sama sekali tidak dibuat untuk mengejek korban keracunan MBG ataupun menghina program pemerintah. Ia mengklaim video itu justru dibuat untuk membantah anggapan negatif yang beredar di media sosial mengenai makanan MBG. Menurut versinya, ia ingin menunjukkan bahwa makanan MBG yang dimakan setelah melewati batas waktu yang tercantum pada kemasan tidak otomatis membuat seseorang mengalami masalah. Dengan kata lain, perempuan tersebut menganggap kontennya sebagai upaya untuk menunjukkan bahwa MBG tidak seseram seperti yang digambarkan oleh sejumlah pengguna media sosial. Ia juga menegaskan bahwa video tersebut dibuat melalui akun Instagram pribadinya. Namun, penjelasan tersebut tidak membuat polemik langsung berakhir. Bagi pihak yang mengkritik, persoalannya bukan semata-mata mengenai apakah makanan MBG yang melewati batas waktu konsumsi akan langsung menyebabkan seseorang sakit atau tidak. Yang menjadi perhatian adalah cara isu tersebut dikemas dalam sebuah video komedi, terutama karena pembuatnya bekerja di lingkungan SPPG yang berkaitan langsung dengan pelaksanaan program MBG. Di tengah isu mengenai keamanan pangan, tindakan bercanda mengenai kehilangan ingatan dianggap sebagian publik kurang tepat. Apalagi, sebelumnya memang sudah ada kasus serupa yang melibatkan pegawai SPPG di Bantul. Pada September 2026, seorang pegawai SPPG Bantul Dlingo Muntuk membuat video ketika sedang menyantap makanan. Dalam video tersebut, ia mengucapkan kalimat yang menyebut ingatannya berkurang 70 persen. Video itu kemudian dikritik karena dinilai berkaitan dengan kondisi seorang siswi korban dugaan keracunan MBG di Kabupaten Karo yang sebelumnya diberitakan mengalami gangguan ingatan. Kasus tersebut bahkan mendapat perhatian Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Badan Gizi Nasional Regional Daerah Istimewa Yogyakarta kemudian memanggil dan memberikan teguran kepada pegawai yang bersangkutan. Pihak SPPG Bantul Dlingo Muntuk juga akhirnya menyampaikan permohonan maaf dan menyebut tindakan pegawainya sebagai kekhilafan yang tidak mencerminkan sikap maupun komitmen SPPG dalam menjalankan program MBG. Kejadian tersebut membuat video terbaru dari karyawan SPPG kembali menjadi perhatian. Publik melihat adanya pola yang hampir serupa, yakni munculnya konten dari pekerja SPPG yang dianggap menjadikan persoalan keamanan MBG sebagai bahan candaan. Bedanya, dalam kasus terbaru, pembuat video justru secara terbuka menyatakan bahwa dirinya tidak merasa melakukan kesalahan dan tidak melihat alasan untuk meminta maaf. Sikap tersebut kemudian mendapat respons dari anggota DPD RI Ni Luh Djelantik. Ni Luh mengecam tindakan tersebut dan menilai karyawan yang bekerja di lingkungan SPPG seharusnya memahami tanggung jawab serta sensitivitas pekerjaannya. Ia bahkan menyarankan agar karyawan tersebut dipecat dari posisinya. Pernyataan tersebut kemudian menambah panjang perdebatan di media sosial. Di satu sisi, pembuat video memiliki penjelasan sendiri mengenai maksud kontennya. Ia mengklaim tidak sedang mengejek korban dan justru ingin membantah anggapan negatif mengenai MBG. Namun di sisi lain, masyarakat memiliki penilaian berbeda terhadap sebuah konten ketika konteksnya berkaitan dengan korban dugaan keracunan makanan. Terlebih lagi, pembuat konten bukan sekadar pengguna media sosial biasa. Ia diketahui merupakan karyawan SPPG yang bekerja dalam ekosistem program MBG. Posisi tersebut membuat setiap konten yang berkaitan dengan MBG berpotensi mendapatkan perhatian lebih besar dari masyarakat. Program Makan Bergizi Gratis sendiri merupakan program berskala besar yang menyangkut kepentingan banyak penerima manfaat. Karena itu, persoalan kualitas makanan, batas waktu konsumsi, kebersihan, keamanan pangan hingga perilaku para pekerja yang terlibat menjadi perhatian publik. Di tengah kondisi tersebut, masyarakat tentu berharap para pekerja yang terlibat dapat menjaga sikap ketika berkomunikasi di ruang publik. Bukan berarti setiap pekerja SPPG tidak boleh membuat konten pribadi. Namun ketika konten tersebut menyentuh isu yang berkaitan langsung dengan program tempat mereka bekerja, potensi munculnya salah tafsir maupun kontroversi tentu menjadi lebih besar. Apalagi media sosial memiliki karakter yang sangat cepat dalam menyebarkan potongan video. Sebuah video yang awalnya dibuat untuk bercanda dapat kehilangan konteks ketika dipotong, diunggah ulang, dan dilihat oleh orang yang tidak mengetahui maksud sebenarnya dari pembuatnya. Dalam kasus ini, pembuat video sudah memberikan penjelasan bahwa dirinya tidak bermaksud mengejek korban maupun merendahkan program MBG. Namun penjelasan tersebut tidak otomatis menghilangkan kritik publik terhadap cara video tersebut dibuat. Persoalan akhirnya bukan hanya mengenai niat pembuat konten, tetapi juga bagaimana sebuah candaan dapat diterima oleh masyarakat, terutama ketika menyangkut isu yang dianggap serius. Kasus ini juga menunjukkan bahwa kontroversi terkait perilaku pegawai SPPG bukan pertama kali terjadi. Sebelumnya, BGN melalui Regional DIY sudah mengambil tindakan berupa pemanggilan dan teguran terhadap pegawai SPPG yang membuat konten kontroversial terkait korban dugaan keracunan MBG. Kini, kasus baru kembali muncul dan bahkan mendapat sorotan dari anggota DPD. Sementara itu, pihak karyawan yang membuat video masih mempertahankan pendiriannya bahwa dirinya tidak melakukan kesalahan. Ia menilai konten tersebut hanya dibuat untuk akun pribadinya dan bertujuan menyampaikan pandangan mengenai makanan MBG, bukan untuk menyerang pihak tertentu. Terlepas dari perbedaan pandangan tersebut, polemik ini menjadi pengingat bahwa pekerja yang terlibat dalam program publik memiliki tanggung jawab komunikasi yang cukup besar. Satu video berdurasi singkat dapat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap institusi maupun program yang mereka jalankan. Apalagi jika video tersebut menyentuh isu kesehatan, keamanan makanan, dan kondisi anak-anak penerima manfaat. Kini publik menunggu apakah akan ada tindakan lebih lanjut dari pihak SPPG maupun Badan Gizi Nasional terhadap karyawan yang videonya viral tersebut. Di sisi lain, desakan Ni Luh Djelantik agar karyawan tersebut dipecat menunjukkan bahwa persoalan ini sudah berkembang lebih jauh dari sekadar kontroversi di media sosial. Untuk saat ini, yang telah diketahui adalah video tersebut memang viral, pembuatnya diketahui sebagai karyawan SPPG, ia menolak meminta maaf karena merasa tidak melakukan kesalahan, dan ia memberikan penjelasan bahwa kontennya dimaksudkan untuk membantah anggapan negatif mengenai MBG. Sementara itu, permintaan agar yang bersangkutan diberhentikan merupakan sikap dari Ni Luh Djelantik dan belum dapat disamakan dengan keputusan resmi dari pihak yang berwenang. Polemik tersebut pun masih menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat.
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

0 Komentar
.