Gelombang Amarah Dan Keprihatinan Membuncah Di Depan Pintu SDN 1 Kebondalem,
Pemalang. Ratusan warga bersama para orang tua murid berbondong-bondong mendatangi sekolah tersebut untuk menyuarakan protes keras.
Mereka menuntut keadilan mutlak atas tewasnya Aqib (7), seorang bocah polos kelas 2 SD yang meregang nyawa akibat diduga menjadi korban pervndvngan (bvllying) dan kekerasan fisik oleh kakak kelasnya sendiri.
Suasana di lokasi penuntutan keadilan berjalan penuh ketegangan dan rasa cemas.
Bagi para orang tua, insiden tragis yang menimpa Aqib adalah puncak dari gunung es masalah kekerasan di lingkungan sekolah tersebut.
Beberapa wali murid secara terbuka membeberkan pengalaman pahit anak-anak mereka yang kerap menjadi korban pemalakan uang saku hingga pengani*yaan oleh murid kelas senior.
Keresahan ini membuat warga meradang, sebab tindak pervndvngan yang semula dianggap angin lalu kini justru terbukti menelan korban jiwa.
Melihat gejolak massa yang kian memanas, Plt Bupati Pemalang, Nurkholes, mendatangi lokasi pada pukul 10.10 WIB untuk menemui perwakilan orang tua dan menggelar audiensi tertutup selama satu jam lebih.
Dalam kesempatan tersebut, Nurkholes secara tegas menumpahkan kekecewaannya.
Ia menyoroti dugaan kuat adanya pihak-pihak yang mencoba memanipulasi fakta dan menutup-nutupi kejadian sebenarnya, bahkan menyayangkan adanya indikasi anak-anak diajarkan untuk berbohong.
Warga pun mendesak agar kasus ini diusut tuntas hingga ke akar-akarnya tanpa ada yang ditutup-tutupi, demi memastikan keadilan bagi almarhum Aqib dan keselamatan anak-anak lain di sekolah.