Nona Dina
7 jam
Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

Tak Sengaja Ketemu Nenek-Nenek Di Pasar ๐Ÿ˜„

Tak Sengaja Ketemu Nenek-Nenek Di Pasar ๐Ÿ˜„ gambar oleh Nona Dina
Pagi itu aku pergi ke pasar dengan satu tujuan sederhana: membeli cabai, bawang, dan beberapa kebutuhan dapur. Aku sudah berjanji pada diri sendiri, โ€œHari ini belanja cepat. Masuk pasar, beli barang, langsung pulang.โ€ Ternyata, rencana manusia memang sering kalah dengan kenyataan. ๐Ÿ˜‚ Baru beberapa langkah masuk pasar, aku tidak sengaja berpapasan dengan seorang nenek yang sedang berdiri di depan penjual sayur. Nenek itu menatapku cukup lama. Aku pun tersenyum. Neneknya tersenyum balik. Aku kira beliau mengenalku. Akhirnya aku menyapa, โ€œPagi, Nek.โ€ Nenek itu langsung menjawab, โ€œPagi. Kamu anaknya Bu Siti, ya?โ€ Aku terdiam. Dalam hati aku berpikir, โ€œBu Siti yang mana?โ€ Aku mencoba tersenyum sambil menjawab, โ€œBukan, Nek.โ€ Nenek itu malah tertawa. โ€œLho, kirain. Mukamu mirip sekali.โ€ Aku ikut tertawa. โ€œMirip siapa, Nek?โ€ Nenek itu menjawab santai, โ€œMirip orang yang pernah nenek lihat.โ€ Aku bingung. โ€œSiapa, Nek?โ€ Neneknya menjawab, โ€œYa... lupa.โ€ Aku langsung ketawa. Ternyata dari tadi kami ngobrol dengan seseorang yang bahkan lupa siapa yang wajahku mirip. ๐Ÿคฃ Aku pun melanjutkan belanja. Tapi baru beberapa meter berjalan, terdengar suara dari belakang. โ€œDek!โ€ Aku menoleh. Ternyata nenek tadi memanggilku. โ€œAda apa, Nek?โ€ Nenek itu bertanya, โ€œKalau cabai sekarang sekilo berapa?โ€ Aku melihat penjual cabai. โ€œKurang tahu, Nek.โ€ Nenek itu mengangguk serius. Kemudian berkata, โ€œYa sudah, nenek juga kurang tahu.โ€ Aku: โ€œ...โ€ Kami sama-sama tidak tahu harga cabai, tetapi tetap berdiskusi seolah-olah sedang rapat penting. ๐Ÿ˜‚ Tidak lama kemudian nenek itu membeli cabai, bawang, dan tomat. Aku pikir percakapan kami selesai. Ternyata belum. Nenek itu melihat belanjaanku. โ€œKamu mau masak apa?โ€ โ€œBelum tahu, Nek.โ€ Nenek itu langsung tertawa. โ€œLho, belanja tapi belum tahu mau masak apa?โ€ Aku menjawab, โ€œNamanya juga hidup, Nek. Kadang belanja dulu, mikirnya belakangan.โ€ Nenek itu langsung mengangguk. โ€œBetul. Suamiku juga begitu. Kalau beli barang, mikirnya belakangan.โ€ Aku tertawa. โ€œTerus nenek marah?โ€ Nenek itu menjawab, โ€œEnggak. Sudah tua, marah juga capek.โ€ Aku langsung berpikir... Wah, ini nenek filosofis juga. ๐Ÿ˜‚ Sebelum berpisah, nenek itu tiba-tiba berkata, โ€œLain kali kalau ketemu nenek lagi, jangan pura-pura nggak kenal.โ€ Aku tertawa. โ€œMemangnya nenek kenal saya?โ€ Nenek itu diam sebentar. Kemudian menjawab, โ€œYa... sebenarnya nenek juga nggak tahu.โ€ Aku langsung ngakak. Kami pun berpisah sambil tertawa. Aku melanjutkan belanja sambil tersenyum sendiri. Awalnya aku datang ke pasar hanya ingin membeli kebutuhan dapur. Tapi malah pulang membawa cerita lucu dari seorang nenek yang bahkan tidak tahu siapa aku. ๐Ÿ˜„ Kadang memang begitu... Pertemuan yang tidak direncanakan justru menjadi bagian paling menyenangkan dari sebuah hari. Dan sejak saat itu, setiap pergi ke pasar, aku selalu berharap bertemu nenek itu lagi. Bukan karena ingin bertanya harga cabai... Tapi ingin memastikan apakah kali ini beliau masih ingat siapa aku. ๐Ÿ˜‚
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

0 Komentar
.