Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.
Tak Sengaja Ketemu Nenek-Nenek Di Pasar ๐
Pagi itu aku pergi ke pasar dengan satu tujuan sederhana: membeli cabai, bawang, dan beberapa kebutuhan dapur.
Aku sudah berjanji pada diri sendiri, โHari ini belanja cepat. Masuk pasar, beli barang, langsung pulang.โ
Ternyata, rencana manusia memang sering kalah dengan kenyataan. ๐
Baru beberapa langkah masuk pasar, aku tidak sengaja berpapasan dengan seorang nenek yang sedang berdiri di depan penjual sayur.
Nenek itu menatapku cukup lama.
Aku pun tersenyum.
Neneknya tersenyum balik.
Aku kira beliau mengenalku.
Akhirnya aku menyapa,
โPagi, Nek.โ
Nenek itu langsung menjawab,
โPagi. Kamu anaknya Bu Siti, ya?โ
Aku terdiam.
Dalam hati aku berpikir, โBu Siti yang mana?โ
Aku mencoba tersenyum sambil menjawab,
โBukan, Nek.โ
Nenek itu malah tertawa.
โLho, kirain. Mukamu mirip sekali.โ
Aku ikut tertawa.
โMirip siapa, Nek?โ
Nenek itu menjawab santai,
โMirip orang yang pernah nenek lihat.โ
Aku bingung.
โSiapa, Nek?โ
Neneknya menjawab,
โYa... lupa.โ
Aku langsung ketawa.
Ternyata dari tadi kami ngobrol dengan seseorang yang bahkan lupa siapa yang wajahku mirip. ๐คฃ
Aku pun melanjutkan belanja.
Tapi baru beberapa meter berjalan, terdengar suara dari belakang.
โDek!โ
Aku menoleh.
Ternyata nenek tadi memanggilku.
โAda apa, Nek?โ
Nenek itu bertanya,
โKalau cabai sekarang sekilo berapa?โ
Aku melihat penjual cabai.
โKurang tahu, Nek.โ
Nenek itu mengangguk serius.
Kemudian berkata,
โYa sudah, nenek juga kurang tahu.โ
Aku: โ...โ
Kami sama-sama tidak tahu harga cabai, tetapi tetap berdiskusi seolah-olah sedang rapat penting. ๐
Tidak lama kemudian nenek itu membeli cabai, bawang, dan tomat.
Aku pikir percakapan kami selesai.
Ternyata belum.
Nenek itu melihat belanjaanku.
โKamu mau masak apa?โ
โBelum tahu, Nek.โ
Nenek itu langsung tertawa.
โLho, belanja tapi belum tahu mau masak apa?โ
Aku menjawab,
โNamanya juga hidup, Nek. Kadang belanja dulu, mikirnya belakangan.โ
Nenek itu langsung mengangguk.
โBetul. Suamiku juga begitu. Kalau beli barang, mikirnya belakangan.โ
Aku tertawa.
โTerus nenek marah?โ
Nenek itu menjawab,
โEnggak. Sudah tua, marah juga capek.โ
Aku langsung berpikir...
Wah, ini nenek filosofis juga. ๐
Sebelum berpisah, nenek itu tiba-tiba berkata,
โLain kali kalau ketemu nenek lagi, jangan pura-pura nggak kenal.โ
Aku tertawa.
โMemangnya nenek kenal saya?โ
Nenek itu diam sebentar.
Kemudian menjawab,
โYa... sebenarnya nenek juga nggak tahu.โ
Aku langsung ngakak.
Kami pun berpisah sambil tertawa.
Aku melanjutkan belanja sambil tersenyum sendiri.
Awalnya aku datang ke pasar hanya ingin membeli kebutuhan dapur.
Tapi malah pulang membawa cerita lucu dari seorang nenek yang bahkan tidak tahu siapa aku. ๐
Kadang memang begitu...
Pertemuan yang tidak direncanakan justru menjadi bagian paling menyenangkan dari sebuah hari.
Dan sejak saat itu, setiap pergi ke pasar, aku selalu berharap bertemu nenek itu lagi.
Bukan karena ingin bertanya harga cabai...
Tapi ingin memastikan apakah kali ini beliau masih ingat siapa aku. ๐