Nona Dina
1 hari
Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

KETEMU PAK TUA DI PARKIRAN PASAR ๐Ÿ˜‚

KETEMU PAK TUA DI PARKIRAN PASAR ๐Ÿ˜‚ gambar oleh Nona Dina
Pagi itu saya pergi ke pasar dengan niat sederhana: beli sayur, beli bumbu, lalu pulang. Tapi ternyata, rencana hidup memang sering berbeda dengan kenyataan. Baru sampai parkiran, saya sudah dibuat bingung mencari tempat untuk memarkir motor. Hampir semua penuh. Saya muter sekali. Muter dua kali. Muter tiga kali. Sampai rasanya motor saya lebih hafal jalan di parkiran daripada saya. ๐Ÿ˜‚ Akhirnya saya melihat satu tempat kosong di dekat seorang pak tua yang sedang duduk santai di atas motornya. Saya mendekat dan bertanya, โ€œPak, ini kosong, ya?โ€ Pak tua itu menoleh sambil tersenyum. โ€œKosong, Nak. Tapi jangan terlalu dekat.โ€ Saya langsung mengira beliau takut motornya tersenggol. โ€œOh, iya, Pak. Saya pelan-pelan.โ€ Saya pun mulai memarkir motor. Baru setengah masuk, pak tua itu berkata, โ€œBukan motornya yang saya takutkan.โ€ Saya berhenti. โ€œTerus apa, Pak?โ€ Beliau menunjuk dirinya sendiri. โ€œSaya takut kamu menabrak saya. Dari tadi saya lihat kamu muter-muter, kayak orang kehilangan arah.โ€ Saya langsung ketawa. โ€œWaduh, Bapak ternyata memperhatikan saya dari tadi?โ€ Pak tua itu tertawa. โ€œIya. Saya sampai hafal. Kamu tadi lewat sini tiga kali.โ€ Saya malu. โ€œKirain saya kelihatan seperti orang yang sedang mencari parkiran.โ€ โ€œBukan,โ€ jawabnya santai. โ€œKamu kelihatan seperti orang yang sedang mencari takdir.โ€ ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ Saya langsung tertawa. โ€œWah, Bapak bisa saja.โ€ Beliau kemudian berkata, โ€œKalau mencari parkiran saja susah, jangan buru-buru mencari pasangan. Bisa lebih susah.โ€ Saya bengong. Dalam hati saya berpikir, Ini saya datang ke pasar mau beli cabai atau sedang ikut seminar kehidupan? ๐Ÿ˜‚ Kami akhirnya ngobrol sebentar. Ternyata pak tua itu sudah sering nongkrong di parkiran pasar. Katanya, selain menjaga motor, beliau juga suka memperhatikan tingkah orang-orang. โ€œAda yang parkir motornya miring, ada yang lupa standar, ada yang sudah turun dari motor tapi helmnya masih dipakai.โ€ Saya tertawa. โ€œBapak kerja di sini?โ€ โ€œTidak.โ€ โ€œTerus kenapa setiap hari di sini?โ€ Beliau menjawab santai, โ€œDi rumah saya tidak ada yang mau mendengarkan cerita saya.โ€ Saya langsung terdiam sebentar. Kemudian beliau tertawa sendiri. โ€œKalau di sini, orang tidak bisa kabur. Sudah turun dari motor, pasti lewat depan saya.โ€ ๐Ÿ˜‚ Saya ikut tertawa. Sebelum masuk pasar, saya pamit. โ€œPak, saya belanja dulu.โ€ Beliau mengangguk. โ€œSilakan. Jangan lupa beli kebutuhan yang penting.โ€ Saya bertanya, โ€œSeperti sayur dan bumbu?โ€ Pak tua itu menggeleng. โ€œBukan.โ€ โ€œTerus apa, Pak?โ€ โ€œBeli kesabaran. Biasanya habis di pasar.โ€ Saya ngakak. Benar juga. Kadang kita pergi ke pasar cuma ingin membeli beberapa barang. Tapi pulangnya malah membawa cerita. Hari itu saya memang mendapatkan sayur, bumbu, dan beberapa kebutuhan rumah. Tapi yang paling saya ingat justru obrolan singkat dengan seorang pak tua di parkiran. Ternyata, orang yang kita temui secara tidak sengaja kadang bisa memberikan hiburan sederhana yang membuat hari kita lebih menyenangkan. Dan sejak hari itu, setiap kali parkir di pasar, saya selalu melihat sekeliling. Bukan mencari tempat kosong lagi... Tapi mencari pak tua yang suka memberikan nasihat gratis sekaligus lawakan dadakan. ๐Ÿ˜‚ Kadang hidup memang tidak perlu terlalu serius. Cukup pergi ke pasar, salah parkir sedikit, lalu ketemu orang yang tepat. Bisa-bisa pulangnya bukan cuma membawa belanjaan... Tapi juga membawa cerita untuk diceritakan ke orang rumah. ๐Ÿ˜„
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

0 Komentar
.