Hidayatur Rohman
14 jam . diperbarui 14 jam
Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

PETIRTAAN JOLO TUNDO MOJOKERTO

PETIRTAAN JOLO TUNDO MOJOKERTO gambar oleh Hidayatur Rohman
Petirtaan Jolotundo adalah salah satu situs peninggalan bersejarah paling penting dan memesona dari era Kerajaan Medang (Mataram Kuno era Jawa Timur) hingga Majapahit. Terletak di lereng Barat Gunung Penanggungan (Gunung Pawitra), tepatnya di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, petirtaan ini terkenal dengan kualitas airnya yang sangat murni. Berikut adalah uraian sejarah, peninggalan, dan makna dari Petirtaan Jolotundo: 1. Latar Belakang Pendirian dan Angka Tahun Berdasarkan sengkalan atau prasasti angka tahun yang terpahat pada situs, Petirtaan Jolotundo dibangun pada tahun 919 Saka atau 997 Masehi. * Pembangun: Ditahbiskan atau dibangun pada masa pemerintahan Raja Udayana (Raja Kerajaan Bedahulu, Bali) dan permaisurinya, Ratu Mahendradatta (putri dari Jawa/Kerajaan Medang). * Persembahan untuk Airlangga: Bangunan air punden berundak ini dibangun sebagai persembahan/candi pertirtaan untuk menyambut atau merayakan kelahiran putra mereka, yaitu Airlangga (yang kelak menjadi pendiri Kerajaan Kahuripan). 2. Kepercayaan dan Fungsi Spiritual Dalam kosmologi Hindu dan kepercayaan masyarakat Jawa Kuno: * Gunung Penanggungan sebagai Puncak Mahameru: Gunung Penanggungan dianggap sebagai puncak dari Gunung Mahameru yang dipindahkan dari India ke Pulau Jawa. Oleh karena itu, air yang mengalir dari lereng gunung ini dianggap suci (Amerta). * Tempat Penyucian dan Ritual: Jolotundo berfungsi sebagai tempat mandi (asrama / patirthan) para raja, bangsawan, dan pendeta untuk membersihkan diri secara lahiriah maupun spiritual sebelum melakukan ritual keagamaan di puncak Penanggungan. 3. Arsitektur dan Sumber Air Murni Petirtaan Jolotundo dirancang dengan teknik hidrolika kuno yang luar biasa: * Struktur Punden Berundak: Bangunan dari batu andesit ini bersandar langsung pada lereng bukit, terdiri dari beberapa teras dengan kolam utama di bagian bawah. * Pancuran Air (Jaladwara): Air keluar dari puluhan pancuran (jaladwara) batu yang diukir indah. Air ini dialirkan langsung dari mata air pegunungan alami yang menembus struktur batuan candi. * Kualitas Air Terbaik: Penelitian modern menunjukkan bahwa kandungan mineral dan tingkat kemurnian air Petirtaan Jolotundo merupakan salah satu yang terbaik di dunia (sering kali menduduki peringkat kualitas air alami terbaik setelah air Zamzam). Airnya dipercaya masyarakat dapat memberi kesegaran, kesehatan, hingga efek awet muda. 4. Perkembangan dari Era Kahuripan hingga Majapahit Meskipun didirikan pada era transisi Mataram Kuno ke Kahuripan (abad ke-10/11 M), Petirtaan Jolotundo tetap dirawat dan digunakan melintasi berbagai era kerajaan besar di Jawa Timur, termasuk masa Kerajaan Singhasari hingga Kerajaan Majapahit (abad ke-13 s.d. 15 M). Gunung Penanggungan secara keseluruhan menjadi pusat tempat pertapaan dan tempat suci agama Hindu-Buddha pada era Majapahit. Mitos dan Tradisi Hari Ini Hingga saat ini, Situs Petirtaan Jolotundo tidak hanya menjadi objek wisata sejarah dan arkeologi, tetapi juga destinasi spiritual. Banyak pengunjung mendatangi petirtaan ini pada malam-malam tertentu (seperti malam 1 Suro/Satu Suro) untuk mengambil air suci, mandi ritual, atau sekadar menikmati kesegaran air pegunungan yang jernih. #ZOYALINK#SEJARAH#BUDAYA#WARISANLELUHUR
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

1 Komentar