Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.
PART 3 — Suamiku Sudah Tahu
Suara langkah kaki Dimas semakin mendekat.
Rania berdiri kaku di depan pintu kamar. Di tangannya, ponsel misterius itu masih menyala, menampilkan pesan yang membuat pikirannya kacau.
"Jangan biarkan Rania tahu siapa ayah kandung anak itu."
Sementara itu, Arga berdiri di dekat jendela, berusaha mencari jalan keluar tanpa menimbulkan suara.
"Arga, jawab aku," bisik Rania. "Anak siapa yang dimaksud pesan ini?"
Arga menatapnya dengan mata penuh kegelisahan.
"Aku akan menjelaskan semuanya. Tapi bukan sekarang."
"Selalu begitu! Lima tahun kamu menghilang, lalu datang tengah malam membawa foto dan rahasia. Sekarang kamu menyuruhku menunggu lagi?"
Arga hendak menjawab ketika gagang pintu kamar bergerak.
"Rania?" panggil Dimas dari luar. "Kamu di dalam?"
Rania buru-buru menyembunyikan ponsel itu di balik punggungnya.
"Iya, Mas. Sebentar."
Pintu terbuka.
Dimas berdiri di ambang pintu dengan kemeja kusut dan wajah lelah. Ia memandang Rania, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah jendela.
Tatapannya berhenti.
"Arga."
Bukan pertanyaan.
Bukan pula keterkejutan.
Dimas menyebut nama itu seolah sudah mengetahui siapa yang akan ditemuinya.
Arga melangkah maju.
"Dimas."
Selama beberapa detik, kedua pria itu saling menatap tanpa berbicara.
Rania memandang mereka bergantian.
"Kalian saling kenal?"
Dimas justru tersenyum tipis.
"Tentu saja."
Ia meletakkan tas kerjanya di atas kursi, kemudian menatap Arga dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Aku hanya tidak menyangka kamu cukup berani untuk datang ke rumahku."
Rania merasakan tengkuknya meremang.
"Mas, apa maksudmu? Kenapa kamu tidak terkejut melihat Arga?"
Dimas tidak menjawab.
Ia malah mengulurkan tangannya kepada Rania.
"Berikan ponsel itu."
Jantung Rania berdegup semakin kencang.
"Bagaimana kamu tahu aku memegang ponsel?"
Untuk pertama kalinya malam itu, senyum Dimas menghilang.
"Karena orang yang mengirim pesan itu sedang bekerja untukku."
Ruangan mendadak terasa begitu sunyi.
Arga mengumpat pelan.
"Jadi, kamu masih menggunakan cara yang sama."
Dimas menoleh tajam.
"Jangan bicara seolah kamu lebih baik dariku."
Rania mundur beberapa langkah.
"Aku mau kalian menjelaskan semuanya. Sekarang."
Dimas menghela napas panjang, lalu duduk di tepi ranjang.
"Lima tahun lalu, sebelum kamu menikah denganku, ada seorang perempuan yang melahirkan seorang anak."
Rania menggeleng.
"Apa hubungannya denganku?"
"Perempuan itu adalah Maya."
Dunia Rania seakan berhenti berputar.
"Maya?"
Dimas mengangguk.
"Dan saat itu, dia belum menikah."
Rania teringat foto di depan rumah sakit. Tangan Dimas yang menggenggam tangan Maya. Tangisan sahabatnya. Tanggal yang selama ini tidak pernah ia curigai.
"Jadi, kamu ayah anak itu?" tanyanya lirih.
Dimas tidak langsung menjawab.
Arga tertawa hambar.
"Itulah yang selama ini kamu takutkan, kan, Dimas? Bahwa Rania akan mengetahui kebenarannya."
Dimas berdiri.
"Diam, Arga!"
"Kenapa? Kamu sudah menyimpan rahasia itu bertahun-tahun. Berapa lama lagi kamu mau membohonginya?"
Rania menatap suaminya. Pria yang setiap pagi menyiapkan kopi untuknya. Pria yang selalu menelepon ketika pulang terlambat. Pria yang selama ini ia percaya sepenuhnya.
"Mas," suaranya pecah, "tolong katakan bahwa semua ini tidak benar."
Dimas memandangnya lama.
Lalu ia berkata, "Aku tidak pernah mengatakan bahwa anak itu anakku."
Rania terdiam.
"Tapi kamu juga tidak menyangkalnya," balasnya.
Dimas mengusap wajahnya.
"Karena ada sesuatu yang lebih penting. Anak itu menghilang tiga hari setelah dilahirkan."
Arga menunduk. Tangannya mengepal.
"Dan adikku meninggal karena berusaha menemukannya."
Rania menoleh cepat.
"Adikmu terlibat dalam semua ini?"
Arga mengangguk pelan.
"Dia bekerja di rumah sakit tempat Maya melahirkan. Sebelum meninggal, dia meninggalkan satu petunjuk."
"Apa?"
Arga merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan foto kecil yang hampir rusak.
Foto seorang bayi yang dibungkus selimut putih.
Di belakang foto itu tertulis sebuah nama.
RANIA.
Rania merasa darahnya seolah berhenti mengalir.
"Itu tidak mungkin..."
Dimas memejamkan mata.
Arga mendekat, lalu berkata dengan suara bergetar.
"Rania, aku datang malam ini bukan untuk merebutmu kembali. Aku datang karena aku akhirnya menemukan bukti bahwa bayi yang hilang itu..."
Tiba-tiba, ponsel Dimas berdering.
Ia melihat layar, dan wajahnya berubah pucat.
Nama yang muncul di sana hanya satu kata:
MAYA.
Dimas mengangkat telepon.
Belum sempat ia berbicara, terdengar suara perempuan dari seberang.
"Dim, mereka sudah menemukan anak itu."
Dimas mencengkeram ponselnya.
"Di mana?"
Maya terisak.
"Di rumah Rania."
Panggilan terputus.
Rania menatap pintu kamar yang terbuka, lalu perlahan memandang kedua pria di hadapannya.
"Apa maksudnya anak itu ada di rumahku?"
Tidak ada yang menjawab.
Hingga akhirnya, terdengar suara kecil dari balik pintu lemari pakaian.
"Bu..."
Rania membeku.
Suara itu terdengar lagi.
"Bu, aku takut."
Arga menutup mulutnya dengan tangan.
Dimas mundur selangkah.
Dan Rania, dengan air mata mulai mengalir, berjalan perlahan menuju lemari tersebut.
Tangannya menyentuh gagang pintu.
Ia membukanya.
Namun, yang ia lihat di dalamnya bukan seorang anak.
Melainkan sebuah kotak kayu kecil, beberapa lembar dokumen rumah sakit, dan sebuah foto lama dirinya saat masih bayi.
Di atas kotak itu terdapat secarik kertas.
Tulisan tangannya sangat dikenali Rania.
Tulisan ibunya yang telah meninggal sepuluh tahun lalu.
"Jika suatu hari Rania mengetahui kebenaran ini, jangan biarkan dia bertemu ayah kandungnya."
Rania berbalik menatap Dimas.
"Mas... siapa ayah kandungku?"
Dimas tidak menjawab.
Arga menatap Dimas dengan mata berkaca-kaca, lalu mengucapkan kalimat yang membuat Rania kehilangan seluruh kekuatannya.
"Rania... ayah kandungmu adalah orang yang paling kamu percaya selama ini."
BERSAMBUNG...