Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.
PART 1 — Pria Yang Datang Tengah Malam
Hujan turun deras ketika Rania mendengar bel rumahnya berbunyi.
Pukul 23.47.
Suaminya, Dimas, sedang berada di luar kota untuk urusan pekerjaan. Seharusnya tidak ada siapa pun yang datang malam itu.
Rania mengintip dari balik tirai.
Seorang pria berdiri di depan pintu. Kemejanya basah, rambutnya berantakan, dan wajahnya terlihat lelah.
Ketika Rania membuka pintu, napasnya seolah berhenti.
"Arga?"
Pria itu adalah mantan kekasihnya. Pria yang sudah tidak ditemuinya selama hampir lima tahun.
"Aku tahu aku seharusnya nggak datang," kata Arga pelan. "Tapi aku nggak punya orang lain untuk didatangi."
Rania terdiam.
Ada banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan. Mengapa Arga datang sekarang? Mengapa setelah sekian lama?
Namun, saat melihat mata pria itu, semua pertanyaan tersebut mendadak terasa sulit diucapkan.
"Masuklah. Kamu basah kuyup."
Arga melangkah masuk. Aroma hujan dan parfumnya yang samar membawa kembali kenangan yang selama ini berusaha Rania kubur dalam-dalam.
Mereka duduk berhadapan di ruang tamu. Dua cangkir teh mengepul di atas meja, tetapi tak satu pun disentuh.
"Aku dengar kamu sudah menikah," kata Arga.
"Sudah tiga tahun."
"Bahagia?"
Rania menunduk, memutar cincin di jarinya.
"Kenapa kamu menanyakan itu?"
"Karena dulu kamu bilang, kalau suatu hari kita bertemu lagi, kamu akan menjawab pertanyaan itu dengan jujur."
Rania mengangkat wajahnya.
"Aku baik-baik saja."
Arga tersenyum tipis. "Itu bukan jawaban yang sama."
Keheningan menyelimuti ruangan.
Lalu Arga mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari saku jaketnya.
"Ada sesuatu yang harus kamu tahu tentang Dimas."
Rania langsung menegang.
"Jangan bawa-bawa suamiku."
"Aku berharap aku nggak perlu melakukannya."
Arga meletakkan amplop itu di atas meja, tetapi menahannya dengan satu tangan.
"Kalau kamu membuka ini, mungkin kamu nggak akan pernah melihat pernikahanmu dengan cara yang sama lagi."
Tiba-tiba ponsel Rania bergetar.
Sebuah pesan masuk dari Dimas.
Dimas: Sayang, aku mungkin pulang lebih cepat besok. Ada sesuatu yang harus aku ceritakan.
Rania belum sempat membalas ketika pesan kedua muncul.
Dimas: Dan satu hal lagi. Jangan buka pintu untuk siapa pun malam ini.
Wajah Rania memucat.
Perlahan, ia menoleh ke arah Arga.
Pria itu sudah tidak tersenyum.
"Rania," bisiknya, "sebelum kamu membaca isi amplop itu, aku harus mengatakan satu hal."
Arga menarik napas panjang.
"Aku bukan satu-satunya orang yang tahu rahasia suamimu."