Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.
Kunci Di Ruang Tengah
Bagian 1: Pesan yang Terlambat
Malam itu, hujan deras mengguyur area kompleks perumahan tua di pinggiran kota. Suasana sepi luar biasa, hanya terdengar deru air hujan yang menghantam atap mobil dan suara wiper yang berdecit menyapu kaca. Aris baru saja menyelesaikan pekerjaan lembur di studionya. Jam di dasbor mobil menunjukkan pukul 23.45.
Saat hendak memutar kemudi menuju belokan rumahnya, ponselnya bergetar di atas kursi samping. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk:
"Jangan pulang lewat jalan biasa. Ada yang menunggu di gerbang."
Aris terkekeh pelan, menganggapnya hanya prank atau salah kirim. Ia tetap menancap gas. Namun, begitu sorot lampu mobilnya menembus kegelapan belokan utama, langkah Aris terhenti seketika. Tepat di tengah jalanan yang sepi, berdiri sebuah manekin kayu seukuran manusia yang terikat di kursi tua dengan kain hitam menutupi kepalanya.
Di dada manekin itu, tertempel selembar kertas bertuliskan nama tipografinya sendiri: ARIS.
Jantungnya berdebar kencang. Baru saja tangannya hendak gemetar memegang gagang pintu untuk keluar menyingkirkan manekin itu, sebuah bisikan dingin terdengar tepat dari dalam kabin mobilnya—dari arah kursi belakang.
“Aris... kenapa kamu tidak mendengarkan pesan itu?”
Aris membeku. Saat matanya melirik ke arah spion tengah, sepasang mata merah menyala tengah menatapnya dari kegelapan kursi belakang.
Bersambung..