Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

Bagian 2: Teror Di Lampu Kabin

Bagian 2: Teror Di Lampu Kabin gambar oleh Abdul Hamid Fadlillah
​Napas Aris tertahan. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya, menyatu dengan rasa takut yang menjalar dari ujung kaki hingga kepala. Suara bisikan di kursi belakang itu terasa sangat dekat, seolah-olah pemiliknya berbisik tepat di samping telinganya. ​Sambil mencoba menguasai jemarinya yang gemetar hebat, Aris perlahan mengulurkan tangan ke atas. Ia memberanikan diri menekannya. ​Cklik. ​Lampu kabin berwarna kuning redup menyala, membedah kegelapan di dalam mobil. ​Melalui kaca spion tengah—dan pantulan cahaya redup di kursi belakang—pandangan Aris bertabrakan dengan sosok wanita berwajah pucat pasi. Rambut hitamnya yang panjang dan lengket terurai berantakan, menutupi sebagian wajahnya yang tirus. Matanya yang legok dan berdarah menatap Aris tanpa berkedip. ​“Kenapa kamu mengabaikan peringatan itu, Aris?” bisik sosok itu lagi. Mulutnya yang menghitam terangkat pelan, membentuk senyuman miring yang ganjil. ​Tepat saat itu, mesin mobil mendadak mati total. Lampu utama padam, meninggalkan Aris terjebak di dalam kabin yang pengap bersama sosok misterius tersebut di tengah guyuran hujan deras.
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

0 Komentar
.