Insomnia MrA Dan Miss B
Masih Terjaga untuk memahamimu
Sunday Affair (Part2)
Kang Jeong-Tae
Aku berhenti menyeruput kopi hitam begitu melihat gadis itu tersedak kopinya. Gadis itu, yang duduk di sisi lain kafe ini, barangkali adalah Shin Yun-Hee. Dia sedang bersama seorang pria yang penampilannya terlalu rapi untuk kencan biasa. Gadis itu bukan seseorang yang spesial bagiku, dia hanya teman SMU-ku, hanya salah satu pemandu sorak biasa yang berteriak lantang memberi semangat ketika tim basketku bertanding dulu. Dan... mungkin dia agak spesial bagiku. Aku ingat aku pernah menyukainya. Hanya saja, Yun-Hee tidak membalas perasaanku seperti yang kuharapkan sebelumnya. Dia bahkan memberikan alasan yang terlalu konyol. Dia bilang gadis bergolongan darah B sepertinya tidak cocok denganku yang bergolongan darah A. Entah itu hanya alasan karena egonya yang terlalu besar atau karena dia memang tidak menyukaiku.
Untuk apa dia berada di sini bersama pria itu?
Apa Yun-Hee sadar aku ada di sini juga?
"Oppa! Kau sedang memperhatikan apa?" tanya Yoora. Rambut sepunggung hitam kecoklatan yang terikat menjadi satu itu bergerak ketika gadis pemiliknya menoleh ke arah Yun-Hee.
"Bukan apa-apa, Yoora," jawabku, berhenti memperhatikan Yun-Hee.
Aku tersenyum. Yoora ikut tersenyum dan pandangannya tidak lepas dariku. Aku hafal sekali ekspresi apa itu. Ekspresi jatuh cinta. Ekspresi yang sudah sering kulihat ketika aku berkencan dengan seorang gadis, meskipun jujur saja, kadang aku tidak merasakan hal yang sama pada setiap kencan.
Hari ini aku mengajak Yoora ke Caffest, kedai kopi yang baru dibuka di kawasan Myeong-dong. Aku suka suasana tempat ini. Setiap meja dibatasi oleh sekat papan kayu yang agak rendah.
Dinding-dindingnya ditutupi rak-rak yang menyimpan buku berbagai genre. Kulihat ada sepuluh genre buku yang ditata di sini. Fantasi, romance, thriller, komedi, detektif, horor, filsafat, dan tiga lainnya tidak terbaca olehku karena jarak raknya terlalu jauh.
Di sisi lain ruangan, terdapat sebuah meja kayu panjang untuk pemesanan take away. Dinding sisi tersebut ditutupi papan tulis hitam. Puluhan menu tertera di papan hitam tersebut, baik makanan maupun minuman-yang tentu saja didominasi oleh varian kopi. Kemudian di bagian atas papan tersebut, terpajang meliuk-liuk judul kedai Caffest berukuran besar dengan moto Bright Up Your Day!.
Tidak seperti kedai kopi pada umumnya, tempat ini nyaris tidak memiliki jendela-jendela kaca besar. Jadi, ini cukup aman untukku. Karena jujur saja, hari ini aku mengajak Yoora menghabiskan hari Minggu sementara statusku masih kekasih orang lain. Go Sae-Na, gadis itu masih kekasih resmiku.
Ah, sudahlah. Aku sedang punya beberapa masalah dengan Sae-Na dan untuk sementara, aku tidak ingin mengingatnya dulu.
Pandanganku kembali ke Yun-Hee. Dia masih saja sibuk bercakap-cakap dengan pria rapi itu-Ah! Kurasa ada baiknya Yoora bersamaku saat ini. Jika kebetulan Yun-Hee melihat ke arahku dan mendapati aku sedang bersama seorang gadis, kurasa itu adalah langkah yang bagus. Aku ingin tahu bagaimana reaksinya setelah pernah mengabaikan pria sepertiku. Aku paling tahu ego Yun-Hee besar sekali waktu itu, padahal sebenarnya kami sama-sama suka. Yoora memotong versatile vanilla cake-nya dengan riang lalu menyodorkan sesuap untukku. "Oppo, ayo buka mulutmuuu!"
pintanya.
Oke, sebenarnya aku merasa ini agak terlalu kekanak-kanakan, tapi agar Yoora senang dan mungkin Yun-Hee melihat ini, akhirnya aku membuka mulut dan merasakan vanilla menguasai tiap kuncup indra pengecapku. Aku segera membilasnya dengan kopi karena aku tidak terlalu tahan makan makanan manis.
"Kau ingin mencoba ini juga?" tanyaku menawari tiramisu-yang sudah kutaburi banyak bubuk mocco agar rasanya tidak terlalu manis. Begitu mendengar tawaranku, Yoora langsung mengangguk cepat, antusias. Jadi, sebagai balasan, aku menyuapi Yoora juga.
"Ah-Oppaaa!" Yoora mengeluh ketika pipinya bersentuhan dengan krim.
Aku tertawa melihat ekspresi spontan Yoora. Aku segera mengusap krim itu dari pipinya menggunakan tisu. "Mianhae". Aku tidak biasa menyuapi orang."
Yoora tertawa lalu merebut tisu yang kupegang untuk membersihkan pipinya sendiri.
"Hehe, tidak apa-apa. Oh iya, Oppo, bagaimana? Akhir minggu depan kau bisa datang ke pertunjukan teater sekolahku, "kan? Aku tidak sabar mengenalkan Oppo ke teman-temanku, Chara dan Jun-Heel Mereka benar-benar mati penasaran ingin melihatmu!" ujar Yoora.
Aku diam, lalu menghela napas. "Mmm... akhir minggu ya? Entahlah, apa aku-"
"Oppoo!" rajuk Yoora.
Kenapa aku tidak ingin mengabulkan permintaan Yoora yang ini?
Pertama, Go Sae-Na memintaku untuk menemaninya pergi ke toko buku. Ada banyak buku kuliah yang ingin dia beli dan singkat cerita-meski otot gadis itu luar biasa kuat, dia tetap ingin membuatku membantunya membawakan buku-buku itu.
Kedua, Yoora belum resmi menjadi kekasihku. Saat ini statusnya masih menjadi satu di antara sekian gadis yang kukenal. Minggu lalu, aku hanya tidak sengaja bertemu dengannya di minimarket. Waktu itu aku sedang istirahat siang dan makan ramyeon di luar minimarket bersama Han Jae-Jin-teman sekantorku.
"Ada gadis SMU yang memperhatikanmu dari balik kaca minimar-ah, dia tahu aku memergokinya. Dia jadi melihat ke arah lain sekarang," kata Jae-Jin memberi tahu.
Gadis SMU? Aku sudah punya Go Sae-No. Jadi, aku tidak berminat dan tetap meneruskan makan ramyeon.
"Eh, tapi apa dia sedang memperhatikanku ya? Hehe," lanjut Jae-Jin.
Memperhatikan? Hh, yang benar saja. Kalau iya, bukannya menghina, berarti selera gadis itu lumayan buruk. Wajah Jae-Jin memang tidak jelek, topi tua.
"Iya. Dia pikir kau ayahnya," hinaku sambil setengah tertawa.
"Enak saja! Aku ini sudah suntik botox kemarin!"
"Botox? Di mana? Dekat kantor?" tanyaku.
"Iya! Wae? Kau berminat juga?" ujarnya sambil memegangi kedua pipinya.