Emri
1 jam . diperbarui 1 jam

Insomnia Mr A Dan Miss B

Insomnia Mr A Dan Miss B gambar oleh Emri
Sunday Affair (Part 1) Shin Yun-Hee "Ibuku bilang, kau ini dokter gigi ya?" tanyaku, berusaha memecahkan keheningan. "Iya," jawab Shin Jun-Jae, calon tunanganku. Sekilas nama kami terdengar mirip. Shin Yun-Hee dan Shin Jun-Jae. "Boleh aku tahu berapa umurmu?" "31 tahun." Suasana kembali hening setelah pertanyaanku lagi-lagi dijawab singkat oleh Jun-Jae. Aku berusaha mencari pertanyaan lain untuk melanjutkan obrolan kami. Oh, yang benar saja, aku Ini orang yang cerewet. Bagaimana bisa aku menghadapi orang sebisu dia?! Coba lihat, selagi aku berusaha mati-matian menghidupkan percakapan ini, Jun-Jae justru tetap diam, dengan pandangan yang entah mengarah ke mana. Dia terlalu pendiam untukku! Tapi mau bagaimana lagi? Aku sedang berusaha mencari pria lain selain Lee Young-Jun, kekasihku yang sekarang. Dia terlalusibuk untukku. Mungkin benar saat liburan dia mengirimiku SMS, sekadar menawarkan apakah aku ingin berkencan atau tidak, tapi ketika aku mengiyakan tawarannya, tiba-tiba dia minta maaf karena harus membatalkan kencan-biasanya karena ada urusan bisnis. Atau kalau terpaksa, kami tetap berkencan dan aku akan bicara sendiri sepanjang waktu sementara Young-Jun sibuk berkutat dengan BlackBerry-nya. "Ini kali pertama aku menerima perjodohan dari orang tuaku. Setelah mendengarkan cerita Ibuku tentangmu, aku memutuskan untuk bertemu dan mencoba mengenalmu lebih dalam," sambil mencoba membandingkanmu dengan Young-Jun tentunya. "Mungkin kau sudah bosan dengan hal-hal seperti ini. Aku bukan gadis pertama yang dijodohkan denganmu, 'kan? Kau bilang, umurmu sudah 31 tahun. Berarti sudah melewati batas peraturan keluargamu." Oke, sebenarnya aku bohong. Aku sudah berkali-kali ikut perjodohan, tapi aku perlu memberitahu setiap calon jodoh yang baru-dan menurutku agak menarik-bahwa ini kali pertama aku dijodohkan. Agar aku lebih terlihat seperti gadis baik dan patuh Tidak peduli lawanku sudah berkali-kali dijodohkan atau belum. Sebenarnya aku mau saja menerima perjodohan yang diatur ibu sayangnya selama ini belum ada yang cocok denganku. telingamu," jawabnya agak tidak berkenan. "Tampaknya kutukan pernikahan itu sudah sampai ke "Kau tenang saja hiburku. "Aku tidak percaya dengan hal hal seperti itu." "Baguslah," ujar Jun-Jae lega "Kau senang mendengarnya?" tanyaku riang "Iya." lya. Iya. Iya. Sudah. Astaga! Dia ini kenapa sih? Sakit gigi?! Ah tidak tidak, tadi dia sendiri mengakui kalau dia adalah seorang dokter gigi. Aku mengerucutkan bibir. Aku benar-benar mulai merasa bosan dengan percakapan ini. Sejak tadi pria di depanku ini hanya menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat. Kalau tidak merasa tertarik dengan perjodohan ini, kenapa dia malah datang dengan pakaian rapi sekali? "Aku ingin tahu, setelah pertemuan pertama kita ini, apakah menurutmu perjodohan masih bisa diteruskan?" "Jika kau tidak ada masalah, kita teruskan saja." "Oh, tampaknya kau benar-benar ingin segera menikah ya?" ujarku, setengah tertawa untuk mencairkan suasana. "Bukan aku. Tapi Ibuku." Bukan aku. Tapi Ibuku. Siall Aku menyesal sudah pura-pura tertawa barusan. Aku kembali menguasai diri dengan anggukan yang anggun. Cerita tentang kutukan pernikahan yang kudengar kemarin membuatku mengambil kesimpulan bahwa pria bernama Jun-Jae ini sudah sangat pasrah menerima calon istri manapun yang dipilihkan ibunya. "Jika kau setuju, kita langsung menikah saja," kata Jun-Jae tiba-tiba. "Hkkk. Aku nyaris menyemburkan kopi yang kuminum karena syok. Alhasil, aku jadi terbatuk-batuk.
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

0 Komentar
.