Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.
I LoVE YouBab 1: Pertemuan Di Bawah Gerimis
Suara riuh gelak tawa dan denting gelas kaca di dalam ruang serbaguna hotel berbintang itu terasa asing bagi Ghania. Ia berdiri sedikit terpisah di sudut ruangan, memegangi cangkir teh hangat yang keasamannya perlahan menguap. Reuni alumni kampus malam ini sebenarnya bukan acara yang sangat ingin ia hadiri, kalau saja Maya—sahabat karibnya—tidak memohon hingga mengancam tidak mau berbicara dengannya selama seminggu.
Ghania menarik napas dalam-dalam, menepuk-nepuk pelan gaun simpel berwarna krem yang membalut tubuhnya. Pandangannya menyapu sekeliling ruangan; kawan-kawan lamanya kini sibuk memamerkan pencapaian karier, pasangan, hingga gaya hidup. Ghania tersenyum tipis. Bukan ia tidak bahagia untuk mereka, tetapi keramaian seperti ini selalu berhasil menguras energinya dengan cepat.
Saat Ghania bersiap meletakkan cangkir tehnya dan bermaksud untuk berpamitan pada Maya, pintu kayu jati di bagian utama ruangan mendadak terbuka lebar.
Suasana yang tadinya bising perlahan meredup, berganti dengan bisik-bisik kagum dari para tamu yang berdiri di dekat pintu. Ghania secara refleks menghentikan langkahnya dan ikut menoleh.
Seorang pria melangkah masuk dengan santai. Ia mengenakan kemeja hitam yang lengannya tergulung rapi hingga ke siku, menampilkan aura karismatik dan dominan yang sulit diabaikan begitu saja. Rambutnya tertata rapi, dan garis rahangnya terlihat makin tegas dibanding beberapa tahun lalu.
Tatapannya yang tajam dan dingin menelusuri isi ruangan, seolah mencari seseorang, hingga akhirnya pandangan pria itu mengunci tepat pada Ghania.
Jantung Ghania seolah berhenti berdetak seketika. Cangkir teh di tangannya bergetar pelan.
Arbi.
Pria yang lima tahun lalu menghilang tanpa kepastian, pria yang meninggalkan sejuta pertanyaan tanpa pernah memberikan satu jawaban pun, kini berdiri tegak hanya sepuluh langkah di hadapannya.
Arbi berjalan mendekat. Setiap helaan langkah sepatu pantofelnya terdengar begitu jelas di telinga Ghania, seakan memacu detak jantungnya yang kian tidak beraturan. Pria itu berhenti tepat di depan Ghania, mengikis jarak yang selama ini memisahkan mereka. Senyum tipis yang sulit diartikan terbit di bibirnya.
"Lama tak berjumpa, Ghania," sapa Arbi. Suara berat dan serak yang amat khas itu masih sama seperti yang selalu diingat Ghania dalam diamnya.
Ghania mengepalkan jarinya pelan di balik lipatan gaunnya, mencoba sekuat tenaga menetralkan ekspresi wajahnya agar tidak tampak goyah. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Arbi.
"Hai, Arbi. Senang melihatmu kembali," jawab Ghania singkat dengan nada seformal mungkin.
Arbi menatap wajah Ghania intens, seolah sedang membaca setiap perubahan pada diri wanita itu selama lima tahun terakhir. "Kamu tidak banyak berubah. Masih selalu suka mengasingkan diri di sudut ruangan."
"Dan kamu banyak berubah, Arbi. Sangat banyak," balas Ghania, mencoba menyindir kepulangan Arbi yang tiba-tiba tanpa pemberitahuan.
Sebelum Arbi sempat menjawab, gumpalan awan hitam di luar jendela hotel akhirnya menumpahkan hujan deras. Dentuman gerimis yang menghantam kaca seolah menjadi latar suara dari takdir yang baru saja memutar kembali lembaran kisah mereka.
Kisah yang mereka kira sudah usai, ternyata baru saja dimulai kembali di malam itu.