Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

Bab 2: Bayangan Masa Lalu

Bab 2: Bayangan Masa Lalu gambar oleh Ghania Arrummi
​Hujan deras di luar gedung hotel kian menjadi-jadi. Suara rintik air yang menghantam kaca tinggi di lobi terdengar bagaikan ritme ketegangan di antara Ghania dan Arbi. ​Ghania masih berdiri kaku. Tatapan mata Arbi yang begitu intens membuat seluruh pertahanan diri yang ia bangun selama lima tahun terakhir terasa goyah dalam hitungan detik. ​"Kamu selalu tahu cara menghindar, Ghania," ujar Arbi perlahan, melangkah satu pijakan lebih dekat. Bau harum aroma sandalwood dan black pepper khas pria itu langsung menyapa indera penciuman Ghania—aroma yang amat familier sekaligus menyakitkan. ​"Aku tidak menghindar, Arbi," jawab Ghania, mengendalikan nada suaranya agar tetap terdengar tenang dan profesional. "Aku hanya sadar tempat. Ini acara reuni alumni, dan aku hanya tamu yang kebetulan ingin menghirup udara segar." ​Arbi tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang sulit diartikan. "Lima tahun bukan waktu yang singkat, tapi sikap dinginmu ini tidak berubah sedikit pun." ​"Lantas, apa yang kamu harapkan?" Ghania menatap tepat di manik mata hitam pria itu. "Sambutan hangat seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita?" ​Kata-kata itu terlontar begitu saja dari bibir Ghania. Ada sedikit penyesalan di hatinya saat melihat sekilas kilatan rasa bersalah di mata Arbi, tetapi Ghania enggan menunjukkan kelemahannya. ​Sebelum Arbi sempat membalas, langkah kaki terburu-buru mendekat dari arah dalam aula. Maya, sahabat Ghania, muncul dengan wajah sumringah namun seketika membeku saat melihat siapa yang sedang berdiri di hadapan Ghania. ​"Ghania! Kamu di... eh, Arbi?" Maya membelalakkan mata, memandang bergantian ke arah Ghania dan Arbi. "Kamu... sudah balik dari Luar Negeri?" ​Arbi mengalihkan pandangannya pada Maya dan mengangguk sopan. "Hai, Maya. Baru beberapa minggu ini aku kembali ke Indonesia." ​"Wah, makin sukses ya sekarang," tutur Maya canggung, merasakan atmosfer tegang yang sangat tebal di antara dua orang di depannya. Maya lalu menepuk bahu Ghania pelan. "Ghan, proyek kantor kita besok pagi kan harus presentasi di depan klien utama? Kita harus jalan sekarang kalau nggak mau terjebak banjir." ​Ghania merasa seperti mendapatkan tali penyelamat. "Ah, iya. Kamu benar, Maya. Aku harus bersiap." ​Ghania kembali menatap Arbi, menyunggingkan senyum formal. "Permisi, Arbi. Semoga sukses dengan kesibukanmu di sini." ​Tanpa menunggu jawaban dari Arbi, Ghania berbalik dan melangkah cepat meninggalkan lobi hotel bersama Maya. Namun, saat berada di ambang pintu keluar, Ghania tidak bisa menahan diri untuk melirik ke belakang satu kali lagi. ​Di sana, Arbi masih berdiri di posisi yang sama, memperhatikan setiap langkahnya pergi di tengah rinai hujan yang terus turun. ​
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

0 Komentar
.