Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

DIUSIR DI TENGAH HUJAN, KEMBALI SEBAGAI PENGUASA DUNIA: Balas Dendam Elegan

DIUSIR DI TENGAH HUJAN, KEMBALI SEBAGAI PENGUASA DUNIA: Balas Dendam Elegan gambar oleh Ahmad Butros Zulfikar
"Sang Ahli Waris yang Dibuang Begitulah ucapan yang terlintas dibenak orang" [Langit Baru dari Titik Terendah] ​Hujan badai malam itu menyisakan genangan air berwarna kelabu di depan gerbang besi besar sebuah mansion mewah. Di sana, di bawah deraan air langit yang dingin, seorang pria berdiri mematung dengan satu koper kain lusuh di tangannya. ​Namanya Arka. Baru saja, pintu gerbang itu dibanting menutup tepat di depan wajahnya oleh paman dan sepupunya sendiri. ​"Pergi kamu dari sini, pembawa sial! Gara-gara utangmu, saham perusahaan keluarga hampir ambruk! Jangan pernah injakkan kaki di sini lagi kalau tanganmu masih kosong!" teriak sepupunya, diiringi tawa sinis para pengawal. ​Arka tidak menangis. Ia hanya menatap nanar plakat nama keluarga yang terpampang megah di dinding pilar. Perusahaan logistik nasional yang dirintisnya dari keringat dan air mata telah dirampok secara licik lewat pemalsuan dokumen. Mereka menendangnya keluar saat ia jatuh miskin, memastikan ia menanggung seluruh beban hukum seorang diri. [​Titik Nol yang Membakar Jiwa] ​Menginap di kamar kos petak berukuran 3x3 meter dengan aroma lembap dan dinding cat mengelupas, Arka tidak tenggelam dalam ratapan. Setiap tetes air hujan yang bocor dari atap kosnya malam itu menjelma menjadi bahan bakar dendam yang dingin dan terarah. ​Ia tahu, membalas pukulan dengan pukulan adalah tindakan bodoh. Cara terbaik menghancurkan musuh yang rakus adalah dengan berdiri di puncak langit di mana mereka bahkan tidak diizinkan untuk sekadar mendongak melihat bayanganmu. ​Dengan sisa otak jeniusnya, Arka mulai merintis ulang semuanya dari sebuah garasi sempit. Ia tidak lagi bermain di bidang logistik konvensional, melainkan membangun fondasi teknologi masa depan: Aether Technologies, sebuah perusahaan pengembang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan energi kuantum mandiri. ​Selama empat tahun, dunia seolah menutup mata pada kerja kerasnya. Arka hidup dengan pola tidur dua jam sehari, menolak menyerah meski sempat ditolak puluhan investor awal. Namun, roda nasib berputar jauh lebih cepat dari perkiraan siapa pun. [​Ketika Sang Raksasa Bangkit] ​Satu dekade berlalu. Dunia dikejutkan oleh kemunculan sebuah korporasi misterius yang mendominasi seluruh sektor ekonomi global—mulai dari energi terbarukan, transportasi otonom, hingga eksplorasi ruang angkasa. ​Nama korporasi itu adalah Aether Corp, dan di pucuk pimpinannya berdiri satu nama yang paling dicari oleh majalah Forbes dan Bloomberg: Arka Danendra. ​Dalam usia yang masih sangat muda, Arka dinobatkan sebagai Orang Terkaya Nomor 1 di Dunia, dengan valuasi kekayaan bersih yang melampaui gabungan seluruh miliarder papan atas di Wall Street. Kekayaannya cukup untuk membeli seluruh kota tempat ia dulu diusir dalam hitungan detik. [​Karma di Ruang Singgasana] ​Suatu sore yang cerah, dari balik kaca antipeluru di lantai 88 Aether Tower—pencakar langit tertinggi di dunia yang menjulang menembus awan—Arka berdiri tenang sambil merapikan manset jas mewahnya. ​Pintu ruangan eksekutif terbuka. Asisten pribadinya melangkah masuk dengan membungkuk hormat. ​"Tuan Arka, perwakilan dari Wijaya Group berada di lobi bawah. Mereka memohon jadwal pertemuan darurat. Perusahaan mereka di ambang kebangkrutan total akibat penipuan investasi, dan mereka... ingin memohon suntikan dana dari kita," lapor sang asisten. ​Sudut bibir Arka terangkat membentuk senyuman tipis yang dingin. Itu adalah paman dan sepupunya—orang yang sama yang dulu melemparkan kopernya ke tengah hujan. ​"Suruh mereka naik," jawab Arka singkat dengan suara bariton yang berwibawa. ​Lima menit kemudian, pintu ruangan terbuka lebar. Dua orang paruh baya berjas mahal masuk dengan langkah gemetar dan wajah sepucat mayat. Sang paman dan sepupunya langsung tertegun begitu melihat sosok pria yang berdiri membelakangi mereka. ​Ketika Arka berbalik dan menatap mereka tajam, lutut kedua orang itu langsung lemas seketika hingga membentur lantai marmer yang mengkilap. Mereka baru sadar, pria yang kini memegang kendali atas hidup dan mati perusahaan mereka adalah orang sama yang dulu mereka perlakukan lebih rendah daripada seekor anjing jalanan. ​"Apa kabar, Paman?" bisik Arka pelan, membuat udara di ruangan itu terasa membeku sempurna.
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

0 Komentar
.