Ummu Zaid
1 hari
Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

Bab 3 — "Retakan Pertama Di Dinding Es"

Bab 3 — "Retakan Pertama Di Dinding Es" gambar oleh Ummu Zaid
Ruang kerja itu gelap, hanya diterangi lampu meja kecil. Damar tidak ada di sana, mungkin sedang ke kamar mandi di dalam. Mata Aline tertarik pada sebuah laci yang sedikit terbuka, dengan sudut foto lama mengintip dari celahnya. Ia melangkah masuk perlahan, hati nuraninya berteriak untuk mundur, tapi rasa penasaran mengalahkan segalanya. Ia menarik foto itu keluar dengan hati-hati. Foto seorang wanita muda, cantik, dengan senyum hangat yang entah kenapa memiliki kemiripan samar dengan Damar, terutama di bagian mata. Di bagian belakang foto, tertulis tanggal dengan tinta yang mulai memudar, sebuah tanggal yang jika dihitung, berarti wanita itu meninggal belasan tahun lalu. "Apa yang kau lakukan di sini?" Suara Damar yang tiba-tiba membuat Aline terlonjak kaget, foto itu hampir terjatuh dari tangannya. Ia berbalik, mendapati Damar berdiri di ambang pintu dengan wajah yang berubah drastis, pucat sekaligus murka. "Aku... maaf, aku tidak bermaksud—" Damar melangkah cepat, merampas foto itu dari tangan Aline dengan gerakan yang hampir kasar, matanya menyala penuh amarah yang jarang sekali ia tunjukkan seterbuka ini. "Jangan pernah menyentuh barang-barangku tanpa izin," desisnya, suaranya bergetar antara marah dan sesuatu yang jauh lebih dalam. "Siapa dia?" tanya Aline berani, meski suaranya juga ikut bergetar. "Kenapa fotonya kau simpan seperti itu?" Untuk sesaat, Damar tidak menjawab, hanya menatap foto itu dengan ekspresi yang tidak pernah Aline lihat sebelumnya, campuran antara luka lama dan kerinduan yang tersembunyi rapat-rapat. "Bukan urusanmu," ulangnya, tapi kali ini suaranya kehilangan ketegasan yang biasa menyertainya. Aline melangkah maju, entah dorongan dari mana, tangannya terulur menyentuh lengan Damar. "Aku tahu rasanya kehilangan seseorang yang berarti. Kau tidak perlu—" "Jangan pernah mengasihaniku." Damar menepis tangannya, tapi genggamannya justru berpindah menahan pergelangan tangan Aline. "Aku tidak butuh itu darimu, atau dari siapa pun." --- Damar nyimpen rahasia yang bahkan Ratih pun nggak boleh tahu. Satu foto, satu tanggal kematian, dan amarah yang keluar bukan karena benci, tapi karena luka yang udah lama dia kubur sendirian. 🖤 "Jangan pernah mengasihaniku. Aku tidak butuh itu darimu, atau dari siapa pun." Siapa wanita di foto itu? Dan kenapa CEO sedingin Damar bisa serapuh ini cuma karena satu lembar kertas lama? Baca jawabannya di "Istri Kontrak Sang CEO Pendendam" 🖤 https://www.dreame.com/novel/2803917056?auto_jump=false&link_type=1&utm_campaign=app_share_copyLink&utm_source=sns_id_apppromo&directedId=2803917056 #DarkRomance #IstriKontrak #CEOPendendam #WattpadIndonesia #PlotTwist #NovelRomance
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

0 Komentar
.