Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.
Bab 2: Langkah Pertama Sang Penguasa
Nyonya Mery menepis pertanyaan Edo dengan kibasan tangan yang menghina. "Tidak usah banyak alasan! Cepat angkat kaki dari rumah ini sebelum saya panggilkan sekuriti untuk menyeretmu keluar!"
Edo hanya tersenyum tipis, merapikan kerah kemejanya, lalu melangkah keluar tanpa membawa satu pun barang dari rumah itu. Malam itu, hujan deras mengguyur kota, namun Edo tidak lagi menumpang angkutan umum seperti biasanya. Di ujung jalan, sebuah mobil Maybach hitam berkaca gelap sudah menunggunya dengan pintu yang dibukakan oleh seorang pria berjas rapi.
"Selamat datang kembali, Tuan Edo. Semua aset dan rekening utama Anda telah diaktifkan sepenuhnya," ucap pria berjas itu sambil membungkuk hormat.
Sementara itu, di dalam rumah mewah keluarga Siska, suasana penuh dengan perayaan. Nyonya Mery membuka botol anggur mahal untuk merayakan terbebasnya mereka dari menantu miskin. Siska sibuk membalas pesan dari Bima, membayangkan masa depan cerah yang akan ia dapatkan bersama pria itu.
Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama. Tepat jam delapan pagi keesokan harinya, telepon rumah keluarga Siska berdering tanpa henti. Ayah Siska, Pak Danu, yang baru saja bangun tidur langsung mengangkatnya dengan wajah mengantuk.
Seketika wajah Pak Danu pucat pasi. Telepon itu berasal dari sekertaris utama perusahaan mereka.
"Pak Danu! Gawat! Saham mayoritas perusahaan kita baru saja dibeli secara mendadak oleh investor misterius! Pemilik baru itu sudah ada di ruang rapat utama dan menuntut seluruh pimpinan hadir sekarang juga!" teriak suara di ujung telepon.
Kepanikan langsung melanda seluruh isi rumah. Siska dan ibunya bersiap terburu-buru, yakin bahwa ini adalah bantuan dari Bima. Namun, saat mereka sampai di kantor dan membuka pintu ruang rapat utama, jantung Siska serasa berhenti berdetak. Pria yang duduk di kursi pimpinan utama sambil memutar pena mahal di jarinya adalah orang yang sangat mereka kenal.
---
**Bab 3: Topeng yang Terlepas**
Siska membeku di ambang pintu. Matanya membelalak melihat Edo duduk di kursi paling terhormat di ruangan itu, dikelilingi oleh jajaran direksi yang menunduk hormat. Pakaian lusuh yang biasa Edo kenakan kini berganti dengan setelan jas kustom senilai puluhan ribu dolar yang sangat pas di tubuhnya.
"Edo?! Kenapa kamu ada di sini?!" jerit Nyonya Mery yang masuk di belakang Siska. "Kurang ajar sekali kamu! Ini ruang rapat penting, bukan tempat pengangguran seperti kamu berdiri! Keamanan, seret dia keluar!"
Namun, tidak ada satu pun petugas keamanan yang bergerak. Justru Direktur Utama PT Sinar Mulia berdiri dan memukul meja dengan wajah marah.
"Jaga mulut Anda, Nyonya Mery!" bentak sang Direktur Utama. "Pria di depan Anda ini adalah Tuan Edo, pemilik baru 80 persen saham PT Sinar Mulia sekaligus Pemilik Utama dari Garuda Financial Corp!"
Kalimat itu bagaikan petir di siang bolong bagi Siska dan ibunya. Garuda Financial Corp adalah konglomerasi raksasa yang menguasai puluhan industri di negeri ini. Pria yang selama tiga tahun ini mencuci piring, menyapu lantai, dan menerima makian mereka setiap hari ternyata adalah seorang triliuner yang sangat berkuasa.
Edo menatap Siska dengan pandangan dingin tanpa emosi. "Kemarin malam, kalian melempar dokumen itu ke mukaku tanpa membacanya. Di lembaran terakhir, terkandung surat pelepasan aset dan penjualan saham keluarga kalian untuk menutupi utang perusahaan."
Siska gemetaran. Langkah kakinya terasa berat saat ia maju mendekati meja rapat. "Edo... ini pasti bercanda, kan? Kamu menyamar selama ini? Kenapa kamu tidak pernah bilang?"
"Kamu tidak pernah bertanya, Siska. Yang kamu pedulikan hanya uang dan gengsi," jawab Edo datar.
Tiba-tiba, pintu ruang rapat kembali terbuka dengan kasar. Bima—pria yang menjadi selingkuhan Siska—masuk dengan wajah penuh keringat dan panik. Namun bukannya membela Siska, Bima justru langsung berlutut di hadapan Edo.
---
**Bab 4: Penyesalan yang Terlambat**
"Tuan Edo! Saya mohon ampun! Saya tidak tahu kalau PT Sinar Mulia adalah milik Anda! Tolong batalkan pemutusan kerja sama dengan perusahaan keluarga saya!" teriak Bima sambil memohon-mohon di lantai.
Siska terhenyak. Pria yang selama ini ia bangga-banggakan sebagai sosok kaya raya dan sukses, kini berlutut pasrah di kaki mantan suaminya.
"Mas Bima? Apa-apaan ini?! Kenapa kamu berlutut sama dia?!" jerit Siska hysteris, mencoba menarik lengan Bima untuk berdiri.
Tetapi Bima malah menepis tangan Siska dengan kasar. "Diam kamu perempuan sialan! Gara-gara berurusan sama kamu dan keluargamu, perusahaan ayahku diambang bangkrut pagi ini karena semua investor menarik diri atas perintah Tuan Edo!"
Nyonya Mery yang menyaksikan hal itu langsung memegang dadanya, merasa sesak napas. Kebenaran yang menghantam mereka begitu cepat dan menghancurkan semua kesombongan yang mereka bangun selama bertahun-tahun.
Edo berdiri dari kursinya. Setiap langkah kakinya yang mendekati Siska terdengar seperti ketukan lonceng kematian bagi karier dan masa depan keluarga wanita itu.
"Sebagai pemilik baru," kata Edo dengan suara tenang namun penuh penekanan, "saya memutuskan untuk memecat seluruh anggota keluarga kalian dari posisi manajerial. Semua fasilitas kantor, mobil dinas, dan rumah atas nama perusahaan akan disita mulai detik ini."
"Edo, tolong... aku ini istri kamu!" tangis Siska pecah. Ia berlutut, mencoba memegang ujung celana Edo dengan air mata yang mengalir deras di pipinya. "Aku khilaf, Edo. Kita bisa mulai dari awal lagi, kan? Aku masih cinta sama kamu!"
Edo menatap tangan Siska yang gemetar di kakinya, lalu melangkah mundur satu langkah, melepaskan cengkeraman wanita itu.
"Istri?" Edo tersenyum sinis. "Surat cerai yang kamu lempar kemarin sudah sah secara hukum pagi ini. Kamu bukan siapa-siapa lagi buat aku."
Edo kemudian berpaling ke arah sekretarisnya. "Proses penyitaan aset sekarang juga. Dan pastikan tidak ada satu pun perusahaan di kota ini yang menerima mereka bekerja."
Saat Edo berjalan keluar dari ruang rapat, Siska dan ibunya meratap histeris di lantai. Namun, kejutan bagi keluarga itu belum sepenuhnya berakhir.
---
**Bab 5: Kehancuran Tanpa Sisa**
Hanya dalam waktu beberapa jam, kehidupan keluarga Siska berubah total dari puncak kemewahan menjadi jurang kemiskinan. Truk-truk penyita barang sudah terparkir di depan rumah mewah mereka. Petugas hukum menempelkan segel di pintu depan, menandakan bahwa rumah tersebut telah disita untuk membayar utang-utang perusahaan yang kini dipegang oleh Edo.
Nyonya Mery terduduk di trotoar depan rumahnya sendiri, menangis meratapi perhiasan dan tas cantiknya yang ikut disita. Teman-teman sosialitanya yang biasa berkumpul kini blokir nomor teleponnya dan berpaling muka.
Siska menggenggam ponselnya yang terus menerus menerima notifikasi penolakan lamaran kerja dan pemblokiran kartu kredit. Pergaulan kelas atas yang selama ini ia banggakan kini berubah menjadi bahan cemoohan. Semua orang di lingkaran mereka sudah mendengar kabar bahwa keluarga Siska telah dihancurkan oleh pria yang pernah mereka tindas.
Di tengah keputusasaan itu, sebuah mobil Maybach hitam berhenti tepat di depan Siska yang sedang duduk teratur di pinggir jalan dengan pakaian kotor. Kaca jendela mobil itu turun perlahan.
Edo menatap Siska dari dalam mobil ber-AC yang sejuk. Penampilannya sangat berwibawa dan tak tersentuh.
"Edo..." panggil Siska dengan suara serak dan penuh penyesalan. "Tolong kasihanilah kami... kami tidak punya tempat tinggal lagi..."
Edo menatap mantan istrinya itu tanpa ada rasa dendam maupun kasihan. "Dulu, saat aku bekerja keras dan diremehkan, kamu pernah bilang kalau orang miskin seperti aku tidak pantas mendapat rasa kasihan. Aku hanya mengembalikan kata-katamu."
"Edo, maafkan aku! Aku mohon!" Siska berlari mendekati mobil, namun pengawal Edo dengan cepat menghadangnya.
Sebelum kaca jendela naik sepenuhnya, Edo memberikan satu gulungan kertas terakhir lewat pengawalnya untuk diberikan kepada Siska.
"Ini adalah dokumen terakhir dari saya," ucap Edo dingin dari dalam mobil sebelum kendaraan mewah itu melaju pergi meninggalkan debu.
Dengan tangan gemetar, Siska membuka gulungan kertas tersebut. Ia berpikir itu mungkin rahasia akhir atau bantuan tempat tinggal dari Edo. Namun, begitu membaca isi tulisan di dalamnya, mata Siska membelalak lebar dan tubuhnya seketika lemas hingga jatuh pingsan di jalan