Runtuhnya Kerajaan Majapahit tidak disebabkan oleh satu peristiwa saja. Setelah mencapai masa kejayaan, terutama pada masa Hayam Wuruk dengan dukungan Gajah Mada, Majapahit menghadapi berbagai persoalan politik dan internal yang secara perlahan melemahkan kekuasaan kerajaan.
Salah satu masalah penting adalah konflik perebutan kekuasaan di lingkungan kerajaan. Setelah Hayam Wuruk wafat pada 1389, terjadi perselisihan mengenai suksesi. Konflik seperti Perang Paregreg pada awal abad ke-15 memperlihatkan bagaimana pertikaian internal dapat menguras kekuatan politik dan sumber daya Majapahit.
Selain persoalan internal, kekuasaan Majapahit juga menghadapi perubahan kondisi politik dan ekonomi di wilayah Nusantara. Beberapa daerah yang sebelumnya berada dalam pengaruh Majapahit semakin memiliki ruang untuk berdiri sendiri. Pada saat yang sama, perkembangan jaringan perdagangan maritim membuat pusat-pusat kekuatan baru semakin penting.
Perubahan politik di Jawa juga ikut memengaruhi posisi Majapahit. Munculnya kekuatan Islam di sejumlah wilayah pesisir, termasuk berkembangnya Kesultanan Demak pada akhir periode Majapahit, menjadi bagian dari perubahan lanskap politik dan ekonomi. Namun, proses melemahnya Majapahit berlangsung secara bertahap dan tidak dapat dijelaskan hanya dengan munculnya satu kerajaan baru.
Jadi, lebih tepat mengatakan bahwa kemunduran Majapahit merupakan hasil dari gabungan konflik internal, persoalan suksesi, melemahnya kontrol terhadap wilayah, dan perubahan jaringan politik serta perdagangan. Setelah masa kejayaannya, kekuatan Majapahit semakin berkurang hingga akhirnya tidak lagi menjadi kekuatan utama di Jawa.