Saya sering menemukan pelaku usaha yang menentukan harga jual hanya dengan melihat harga kompetitor. Memang tidak ada salahnya melakukan riset pasar, tetapi kalau hanya mengikuti harga orang lain tanpa menghitung biaya sendiri, risikonya cukup besar. Bisa saja produk terlihat laris, tetapi keuntungan yang didapat ternyata sangat tipis.
Mengetahui Biaya Yang Dikeluarkan
Menurut saya, langkah pertama yang wajib dilakukan adalah mengetahui berapa biaya yang benar-benar dikeluarkan untuk menghasilkan satu produk. Jangan hanya menghitung bahan baku. Masukkan juga biaya kemasan, ongkos kirim ke gudang, listrik, biaya pemasaran, hingga biaya operasional lainnya. Semakin lengkap perhitungannya, semakin mudah menentukan harga yang masuk akal.
Setelah mengetahui total biaya, barulah tentukan keuntungan yang ingin didapat. Besarnya tentu bisa berbeda-beda tergantung jenis bisnis dan kondisi pasar. Yang terpenting, harga jual harus tetap mampu menutup seluruh biaya operasional sekaligus memberikan keuntungan agar bisnis bisa terus berjalan.
Saya juga menyarankan untuk tidak selalu berlomba menjadi yang paling murah. Banyak pelanggan rela membayar lebih jika mereka merasa kualitas produk, pelayanan, dan pengalaman berbelanjanya memang sepadan. Harga murah memang bisa menarik perhatian, tetapi belum tentu membuat bisnis bertahan dalam jangka panjang.
Hal lain yang sering terlupakan adalah melakukan evaluasi harga secara berkala. Harga bahan baku bisa berubah, biaya operasional juga bisa naik. Kalau harga jual tidak pernah diperbarui, keuntungan yang sebelumnya sudah dihitung bisa terus berkurang tanpa disadari.
Kalau saya boleh memberi saran, jangan takut menetapkan harga yang sesuai dengan nilai produk yang kamu tawarkan. Selama kualitasnya terjaga, pelayanannya baik, dan pelanggan mendapatkan manfaat yang jelas, harga yang wajar justru akan membuat bisnismu lebih sehat dibanding sekadar mengejar penjualan dengan margin yang sangat tipis.
