Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.
TIGA TAHUN AKU MENUNGGU SUAMIKU PULANG DARI SURABAYA, TETAPI PADA MALAM PERTAMA
IA MEMELUKKU DENGAN KEBIASAAN MILIK PEREMPUAN LAIN-LALU SATU KALIMAT DINGIN MEMBUATKU MEMBUKA REKENING BERSAMA DAN MENEMUKAN ALASAN SEBENARNYA IA KEMBALI KE RUMAH BAGIAN I MALAM PERTAMA SUAMIKU PULANG SETELAH TIGA TAHUN, IA TIDUR SEPERTI LELAKI YANG SUDAH TERBIASA MEMELUK ORANG LAIN-DAN JAWABANNYA MEMBUATKU BERHENTI MENJADI ISTRI YANG MENUNGGU "Kalau kamu pura-pura tidak tahu, kita masih bisa tetap seperti dulu."
Raka mengucapkan kalimat itu dengan mata terpejam.
Tenang.
Datar.
Seolah-olah yang sedang kami bicarakan hanyalah tagihan
listrik yang terlambat dibayar.
Bukan perempuan lain.
Bukan tiga tahun pernikahan jarak jauh.
Bukan seluruh hidupku yang tiba-tiba terasa seperti lelucon.
Aku berbaring kaku di sebelahnya.
Tangannya masih melingkar di pinggangku.
Aneh sekali.
Selama sembilan tahun menikah, Raka tidak pernah tidur seperti itu.
Dia selalu tidur telentang, satu tangan di bawah bantal, satu tangan di dada.
Bahkan saat bulan madu kami di Bali, ketika aku mencoba menyelipkan kepala ke lengannya, dia tertawa dan berkata bahunya cepat pegal.
Namun malam pertama setelah pulang dari penugasan tiga tahun di Surabaya, tubuhnya bergerak dalam tidur seperti sedang mengulang kebiasaan lama.
Tangannya mencari pinggangku.
Telapak tangannya berhenti tepat di perutku.
Dagunya otomatis mendekat ke belakang kepalaku.
Gerakannya terlalu alami.
Terlalu terlatih.