Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.
The Secret Student And The Campus Curse Bab 1.
"Lepasin!"
Seruni nepis tangan cewek itu sekuat tenaga, jaketnya ikut sobek dan tanda naga hitam di pergelangan tangannya langsung kelihatan jelas.
“Itu tanda apa itu?! Kok hitam pekat banget kayak arang habis kebakaran!”
“Cuma noda kotor yang gak ilang ilang aja, gak usah heboh.”
“Bohong! Tadi bergerak sendiri loh!”
“Itu mata lo yang lelah belajar, jangan halu terus.”
“Mahasiswi baru?!”
Suara berat tiba tiba terdengar dari belakang, bikin mereka berdua loncat kaget barengan.
“Gak usah ditutup.”
Seruni menoleh. Di ambang pintu berdiri seorang cowok. Tinggi badannya cukup menjulang. Bahunya lebar. Dia memakai seragam kampus yang terlihat rapi dan kaku. Wajahnya tampan tapi dingin sekali. Matanya tajam dan gelap, seakan bisa menembus pikiran orang yang dipandangnya. Gerakannya tenang dan tegas, tidak ada gerakan sia sia. Di dadanya ada lencana perak bertuliskan Pratama. Dia berdiri tegak tanpa banyak bicara, kehadirannya saja sudah bikin orang lain merasa segan dan tak berani bersuara.
Cewek yang tadi narik lengan Seruni langsung pucat pasi. Dia melirik cowok itu sekali lagi, lalu buru buru menunduk dan pergi meninggalkan mereka berdua dengan tergesa gesa. Dia tahu siapa cowok itu. Ketua Persekutuan. Orang yang gak pernah bercanda dan gak segan menindak siapa pun yang melanggar aturan. Makanya dia gak berani bersikap aneh aneh di hadapannya.
“Siapa lo?”
“Arga Pradana. Ketua Persekutuan. Tunjuk tangan lo itu.”
Suaranya datar dan rendah. Tidak ada nada bertanya. Semua terdengar seperti perintah yang tidak bisa ditolak. Dia tidak banyak bertanya, tidak banyak berdebat. Kalau dia sudah bicara begitu, berarti dia sudah yakin dengan apa yang diketahuinya.
“Ini cuma tanda lahir biasa. Kenapa harus begitu?”
“Bohong.” Arga lemparin selembar foto tepat ke wajahnya. Gerakannya cepat dan tepat, tidak meleset sedikit pun. “Ditemuin di dada penjaga arsip yang tewas pagi tadi. Bentuknya persis sama.”
Seruni melotot lihat fotonya sambil mengerutkan hidung. “Wih mirip ya, tapi itu cuma kebetulan. Banyak orang mirip tau gak.”
Arga menatapnya lekat lekat, suaranya rendah dan berat. Wajahnya tetap datar, tidak terkejut, tidak marah. Seakan semua jawaban yang keluar dari mulut Seruni sudah dia duga sebelumnya.
“Keluarga lo terakhir kelihatan di tempat ini, tepat saat seluruh pendiri kampus ini tewas. Lima puluh tahun lalu.”
Seruni terdiam seketika, matanya membelalak tak percaya.
“Lo... lo tahu nama keluarga gue?”
“Dan hari ini lo muncul.” Arga melangkah maju selangkah. Langkahnya tenang dan berat. Matanya tak lepas dari wajah Seruni. “Tepat saat pembunuhan itu terjadi lagi.”
“Lima puluh tahun lalu gue belum lahir. Dari mana lo tahu soal itu?” Seruni mundur selangkah, kakinya terasa lemas.
Arga gak menjawab. Dia bukan tipe orang yang suka menjelaskan tanpa alasan kuat. Dia langsung maju dan cengkeram pergelangan tangan Seruni erat banget tepat di atas tanda itu. Gerakannya cepat dan tegas, tidak ragu sedikit pun. Udara di sekitar mendadak bau belerang nyengat.
“Aduh sakit! Lepasin!”
“Lo datang buat menyelesaikan apa yang belum selesai.”
“Lo gak tahu apa apa soal gue!”
Arga melepas cengkeramannya perlahan. Wajahnya tetap tenang seolah tidak mendengar bantahan Seruni. Lalu dia keluarin benda kecil berbentuk kepala naga dari saku jaketnya. Gerakannya santai tapi penuh perhatian. Sejak tadi matanya tidak pernah beralih dari tanda di pergelangan Seruni. Seruni tertegun memandangi benda itu, hatinya berdegup kencang.
Itu bentuknya persis sama kayak kalung yang selalu disembunyikan ibu gue di laci terkunci.
“Ditemuin di dekat mayat.” Arga deketin benda itu perlahan ke kulit Seruni. Seketika tanda naganya menyala merah terang. Seruni mundur terhuyung kaget. Wajah Arga tetap tidak berubah. Tidak terkejut, tidak senang. Seakan dia sudah tahu hal itu akan terjadi.
“Ini kenapa bisa begini?”
Arga tetap diam, gak memberi penjelasan apa pun. Dia bukan tipe orang yang banyak bicara untuk hal yang belum pasti.
“Tubuh lo sendiri yang bicara.”
Suara riuh mulai kedengeran dari luar pintu.
“Ada orang dateng.” Seruni melirik pintu cemas.
Arga melirik sekilas ke arah pintu. Lalu menatap kembali ke arah Seruni dengan tatapan yang sulit dibaca.
“Ikut gue ke ruang arsip. Atau gue serahin ke dewan sekarang.”
Seruni menarik napas dalam, tahu tak ada jalan lain.
“Baik. Gue ikut. Tapi satu hal...” Seruni menatapnya tajam. “Dari mana lo tahu soal keluarga gue?”
Arga melangkah mendahului, suaranya kembali terdengar dingin tanpa menoleh sedikit pun. Dia berjalan tegak, langkahnya mantap. Seakan dia tahu persis ke mana dia pergi dan apa yang akan ditemuinya.
“Nanti lo akan tahu sendiri.”
Seruni berjalan di belakangnya, hatinya berdebar kencang. Pertanyaan itu terus bergema di kepalanya, dari mana Arga tahu hal yang bahkan Seruni sendiri baru dengar hari ini? Dan kenapa cowok itu bersikap begitu tenang, seakan semua hal aneh di dunia ini sudah biasa dia temui?
Belum jauh ponselnya bergetar di saku. Dia lirik sekilas layarnya dan napasnya langsung nyangkut di tenggorokan. Pesan tanpa nama pengirim:
Mereka udah tahu lo bawa kuncinya. Arga bukan penyelamat lo. Dia dikirim khusus buat ambil nyawa lo.
Seruni mendongak natap punggung Arga yang jalan tenang di depannya. Dia terlihat begitu yakin dan tak tergoyahkan. Tapi di ujung lorong yang gelap sepi itu, sepasang mata merah menyala menatapnya tanpa berkedip. Dan di lantai tempat Arga tadi berdiri, kini tertinggal jejak naga hitam yang perlahan lenyap terbawa angin.