Bang Jhon
17 jam
Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

Tangisan Bayi Terdengar Sampai Ke Teras Ketika Aku Pulang Lebih Cepat Ke Rumah

Tangisan Bayi Terdengar Sampai Ke Teras Ketika Aku Pulang Lebih Cepat Ke Rumah gambar oleh Bang Jhon
kami di Bintaro. Begitu masuk, aku menemukan istriku, Nadira, tergeletak tak sadarkan diri di sofa. Yang membuat darahku terasa dingin, ibuku justru duduk beberapa meter darinya sambil menikmati ayam kecap, tumis sayur, dan nasi hangat. “Bu, Nadira kenapa?” Ibu hanya mengangkat bahu. “Capek saja. Dari tadi memang suka berlebihan.” Aku langsung menggendong putra kami yang baru beberapa minggu lahir. Wajahnya merah karena menangis. Dengan tangan gemetar, aku menelepon layanan darurat. Barulah aku melihat meja makan. Ada beberapa lauk lengkap yang jelas bukan makanan sederhana untuk seseorang yang baru melahirkan dan hampir tidak pernah tidur nyenyak. “Ibu menyuruh Nadira memasak semua ini?” “Memangnya kenapa?” jawab Ibu. “Ibu cuma bilang sudah bosan lihat kalian pesan makanan terus. Jadi istri itu harus bisa mengurus rumah.” Aku menatapnya tak percaya. Sebelum berangkat kerja pagi tadi, Nadira bahkan mengeluh pusing karena semalaman hanya tidur sekitar dua jam. “Dia pingsan di depan Ibu?” “Dia bilang kepalanya berputar, lalu rebahan di sofa. Jangan dibesar-besarkan, Ardi. Perempuan dari dulu juga melahirkan.” Aku menatap Nadira yang bahkan belum membuka mata. “Ibu sudah periksa keadaannya?” Ibu mendecakkan lidah. “Dia cuma cari perhatian.” Saat itulah sesuatu dalam diriku berubah. Selama ini aku selalu membela Ibu. Aku mengatakan kepada Nadira bahwa Ibu hanya keras karena dibesarkan dengan cara berbeda. Aku meminta Nadira bersabar setiap kali Ibu mengomentari caranya mengurus bayi, kebersihan rumah, bahkan makanan yang kami pesan. Ternyata selama ini akulah yang gagal melihat masalah sebenarnya. Petugas medis datang beberapa menit kemudian. Saat mereka memeriksa Nadira, Ibu masih mencoba menjelaskan bahwa semuanya berlebihan. Aku mengambil piring makan Ibu, membawanya ke dapur, lalu membuang seluruh isinya ke tempat sampah. “Ardi!” Aku kembali menatapnya. “Mulai malam ini, Ibu tidak boleh datang ke rumah ini tanpa izin.” Wajahnya langsung berubah. “Kamu mengusir ibu kandungmu gara-gara istrimu ketiduran?” “Dia bukan pembantu Ibu.” Aku menunjuk pintu. “Dan mulai sekarang, Ibu tidak akan sendirian bersama Nadira ataupun anak kami.” Ibu terdiam. Untuk pertama kalinya, dia sepertinya sadar bahwa aku tidak akan meminta maaf setelah emosiku reda. Namun sebelum dia sempat menjawab, salah satu petugas memanggilku. “Pak Ardi, istri Anda mulai sadar.” Aku berlari menghampiri Nadira. Kelopak matanya terbuka perlahan. Aku menggenggam tangannya. “Aku di sini. Kamu aman.” Nadira menatapku lama. Lalu matanya bergeser ke arah Ibu yang masih berdiri di ruang makan. Wajah Nadira tiba-tiba pucat. Tangannya mencengkeram jariku. “Mas…” “Ada apa?” Air matanya jatuh. “Aku harus kasih tahu sesuatu.” Aku mendekat. Nadira berbisik sangat pelan agar hanya aku yang mendengarnya. “Ini bukan pertama kalinya Ibu melakukan sesuatu kepadaku saat Mas pergi kerja.” Dadaku seperti dihantam sesuatu. “Apa maksudmu?” Nadira hendak menjawab. Namun tiba-tiba Ibu berdiri dan berkata dengan suara keras, “Jangan percaya semua yang dia katakan!” Ruangan mendadak sunyi. Aku menoleh kepada Ibu. Dan saat itulah aku sadar satu hal yang jauh lebih menakutkan: Ibu tahu persis rahasia apa yang hendak diceritakan Nadira. Komentar RAHASIA dan tekan “Suka” kalau kamu ingin tahu apa yang sebenarnya dilakukan Ibu setiap kali Ardi pergi bekerja.
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

0 Komentar
.