Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.
Setiap Langkah Yang Diambil Heri Di Trotoar Kota Selalu Diiringi Rasa Cemas.
Bukan karena takut copet atau kendaraan ugal-ugalan, melainkan karena ancaman benda kecil berkepala payung yang bersembunyi di mana-mana: paku.
Bagi kebanyakan orang, menginjak paku adalah awal dari hari yang buruk, tetesan obat merah, dan suntik tetanus yang menyiksa. Namun bagi Heri, itu adalah pencairan gaji.
Sistem aneh ini bermula tepat tiga bulan lalu, ketika sebutir paku berkarat menembus sepatu ketsnya yang sudah bolong. Seketika rasa sakit meroket ke otaknya, sebuah suara misterius berbisik di kepalanya: "Level 1: Paku beton kecil. Tunai: Rp50.000."
Semenjak hari itu, hidup Heri berubah drastis dari seorang pengangguran galau menjadi "pahlawan martir" finansial.
Kurs Mata Uang Penderitaan
Heri bahkan sudah memiliki buku catatan kecil layaknya seorang akuntan profesional untuk menghitung rekapitulasi lukanya:
Level 1 (Rp50.000): Paku payung atau paku triplek kecil. Sensasinya seperti digigit semut api. Cepat sembuh, tapi kalau diinjak lima kali sehari lumayan untuk bayar cicilan motor.
Level 2 (Rp250.000): Paku kayu 5 sentimeter. Menusuk tepat di lengkung kaki. Cukup membuat Heri meringis sambil melompat dengan satu kaki di pinggir jalan. Uangnya cukup untuk makan enak di restoran cepat saji.
Level 3 (Rp1.000.000): Paku beton besar atau paku seng bekas bangunan roboh. Menginjak ini berarti Heri harus siap berjalan pincang seharian. Tapi saldo rekeningnya langsung melonjak seketika, cukup untuk membayar sewa kos tiga bulan sekaligus.
Pernah suatu ketika, dalam keadaan terdesak butuh uang untuk biaya pengobatan ibunya, Heri dengan sengaja berjalan di dekat proyek renovasi ruko. Dengan mata terpejam dan doa yang khusyuk, ia melangkah mantap ke area tumpukan kayu bekas.
Clesk!
Sebuah paku besi berkarat sepanjang tujuh sentimeter menembus sol sepatunya. Heri menjerit sejadi-jadinya, air matanya tumpah ke aspal. Namun begitu notifikasi dari "sistem" masuk ke kepalanya—"Level 4: Paku raksasa berkarat. Tunai: Rp5.000.000"—tangisannya langsung berhenti berganti senyum lebar sambil terpincang-pincang menuju ATM terdekat.
Dilema Sang Jutawan Pincang
Kini, tetangga Heri heran melihat gaya hidupnya yang mendadak mapan meski kerjanya hanya jalan-jalan sore di sekitar kompleks. Mereka tidak tahu bahwa di balik celana panjang Heri yang selalu longgar, tersembunyi perban tebal dan aroma salep antiseptik yang menyengat.
Sore itu, Heri berdiri di depan toko bangunan. Ia menatap sekerdus paku baru yang tersusun rapi di etalase. Dompetnya sedang tipis, dan cicilan sudah menanti. Ia menarik napas dalam-dalam, bersiap mengambil keputusan apakah ia harus membeli sekotak paku kecil untuk ditabur sendiri di kamarnya malam ini demi uang belanja besok pagi.
Menurut Kalian, uang memang bisa dicari dengan berbagai cara, tetapi apakah jalan pintas lewat paku berkarat ini benar-benar sepadan dengan lubang di telapak kakinya?