Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.
SEPANJANG USIA
Duduklah di sampingku,
seperti hari-hari yang tak pernah tergesa,
kita telah melewati banyak musim,
dari muda yang penuh cita-cita
hingga senja yang mengajarkan
arti menerima.
Tak perlu lagi kata-kata besar,
sebab keriput di wajahmu
adalah puisi yang telah selesai ditulis waktu.
Dan di matamu,
aku menemukan jejak perjalanan—
tentang sabar, tentang luka,
tentang cinta yang memilih bertahan.
Kita mungkin tak memiliki
kemewahan yang diceritakan dunia,
tetapi kita punya rumah
yang dibangun dari kesetiaan,
dari doa-doa yang diam-diam
naik ke langit setiap malam.
Jika kelak rambut semakin memutih,
langkah semakin perlahan,
dan tangan tak lagi sekuat dahulu,
jangan lepaskan tanganku.
Biarlah kita berjalan pelan,
menyusuri sisa usia
dengan hati yang tetap sama:
aku di sisimu,
engkau di sisiku,
hingga waktu sendiri
kehabisan alasan untuk memisahkan kita.
Dan bila suatu hari
salah satu dari kita harus lebih dahulu pulang,
semoga cinta ini tidak ikut berakhir—
melainkan menjadi doa
yang terus mengetuk pintu Tuhan,
agar di kehidupan yang abadi,
kita dipertemukan kembali
sebagai dua insan
yang pernah berjanji:
mencintai,
bukan hanya sepanjang hidup,
tetapi sepanjang usia cinta itu sendiri.