Nayla
1 jam
Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

Senja Di Ujung Lorong Waktu

Sudah lama sekali aku tidak kembali ke sudut kota itu. Ketika akhirnya aku melangkah lagi di jalan berbatu yang sama, rasanya waktu seolah berputar mundur. Aroma tanah basah setelah hujan, suara deru becak tua, dan pantulan cahaya jingga matahari senja membawaku kembali ke sebuah sore di tahun-tahun belasan. Saat itu, duniaku begitu sederhana. Ukuran kebahagiaan hanyalah seberapa cepat aku bisa menyelesaikan PR matematika demi bermain layang-layang di lapangan dekat rumah, atau bagaimana cara menabung uang saku demi membeli komik edisi terbaru yang sudah diincar berpekan-pekan. Aku teringat sosok Bapak yang sering duduk di teras rumah sambil menyeruput kopi hitam. Tangannya yang kasar dan penuh bekas peluh kerja keras selalu menyambutku pulangnya sekolah dengan senyuman tenang. "Belajarlah mengikhlaskan apa yang bukan milikmu, Nak, dan hargai setiap detik yang sedang kau jalani. Sebab waktu tidak pernah berjalan mundur." Kalimat itu dulu sering kudengar sebagai nasihat biasa. Namun, semakin bertambah usia, makna kalimat itu kian menghujam ke dalam dada. Aku teringat masa-masa ketika aku sempat salah melangkah, merasa paling benar sendiri, lalu harus menelan kekecewaan pahit karena keras kepala. Ada air mata yang tumpah dalam sunyi kamar tidur, ada perpisahan-perpisahan dengan sahabat lama yang jalurnya perlahan-lahan terpisah oleh takdir dan kesibukan dunia, serta ada mimpi-mimpi masa remaja yang harus rela direvisi karena realita hidup tidak selalu berjalan sesuai skenario. Namun, di situlah letak keindahannya. Masa lalu bukanlah tempat untuk tinggal selamanya, melainkan sebuah ruang tunggu pendewasaan. Tanpa sore-sore yang melelahkan itu, tanpa kegagalan-kegagalan kecil yang membuatku patah hati, aku tidak akan pernah menjadi pribadi yang berdiri di sini hari ini—lebih sabar, lebih kuat, dan lebih menghargai pelukan hangat orang-orang tercinta. Matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala, menyisakan warna ungu gelap di langit. Aku menarik napas panjang, tersenyum pada bayangan diriku di masa lalu, lalu berbalik melangkah pulang. Masa lalu telah selesai menulis bagiannya, kini giliranku melanjutkan lembaran baru dengan penuh rasa syukur.
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

2 Komentar